Kafan itu Hidayahku Berhijab

Assalamualaikum..

Melalui blog ini aku ingin berbagi tentang ceritahijabku. Namaku Dessy Anggreini, aku mulai berhijab 6 tahun lalu tepatnya tanggal 31 Mei 2005. Awalnya kalau ditanya apa yang jadi alasan untuk berhijab pasti bingung, tapi mungkin peristiwa kain kafan berbentuk segitiga lah yang menjadi hidayah dan pendorongku untuk segera berhijab.

Alhamdulillah pada tahun 2005 itu aku dan keluarga dapat rezeki untuk bisa pergi ibadah Umroh. Pengalaman pertama mau pergi umroh itu sedikit repot karena harus mempersiapkan baju-baju muslim dan kerudung untuk digunakan selama disana, sedikit repot karena pada saat itu koleksi baju muslimku sangat minim, akhirnya hanya mengandalkan kerudung koleksi mama dan beberapa baju muslim yang dibeli sebelum keberangkatan untuk dibawa kesana.

10 hari menjalankan ibadah di Kota Madina dan Mekah dengan berpakaian muslim, Alhamdulillah lancar dan sama sekali ga ngerasain yang namanya ribet maupun kepanasan, malahan seneng sambil ibadah bisa sambil mencontek gaya berpakaian dan berkerudung para hijabers lainnya disana. Sepulang umroh sempat ngerasa ragu apakah akan langsung berhijab atau engga, dan keputusannya adalah “Engga”. Di kampus sempat banyak teman-teman yang berkomentar “Lho sudah pulang umroh ko belum berjilbab?” Mendengar komentar seperti itu aku ngerasa malu, apalagi disaat yang sama ada teman yang mulai berhijab, dalam hati aku berpikir, aku yang sudah dikasih rezeki sama Allah untuk datang dan beribadah kerumahNya masa keduluanan sih ma temenku ini berhijabnya.. Ya tapi akhirnya cuma bisa menjawab “InshaAllah doain yah secepatnya”. Tapi saat itu sudah mulai belajar untuk menggunakan baju-baju yang lebih menutup aurat.

Dua minggu setelah pulang umroh mungkin bisa dibilang menjadi momen penting dalam keputusanku untuk segera berhijab. Momen itu terjadi waktu ada tetangga meninggal, karena memang sudah sangat dekat maka aku dan keluarga ikut serta dalam mempersiapkan segala hal untuk persiapan pemakamannya. Malam itu ga tau kenapa ngerasa betah banget di rumah duka, sampai akhirnya ngeliat dan merhatiin ibu-ibu petugas mandiin mayat dari DKM sibuk motong-motongin kain kafan. Malam itu baru tau kalau ternyata kain kafan itu dipotongnya jadi banyak bagian yah, sambil merhatiin potongan-potongan kain kafan itu, akhirnya nemuin satu potongan dengan bentuk segitiga yang buat penasaran, sakin penasarannya akhirnya nanya sama ibu petugasnya..

”Bu, kalau potongan yang segitiga itu untuk apa??”

Si ibu dengan santainya menjawab “oh yang itu neng?? Itu untuk jilbabnya neng, jadi kalo mayat perempuan ada bagian kafan yang dijadiin jilbabnya…”

HEEEEHHH, denger jawaban si ibu sangat-sangat buat aku kaget dan syok! Dalam hati sambil ngomong “masa sih bu orang meninggal waktu dikafanin dipakein jilbab???” Dari kejadian itu jadi sering kepikiran sambil nanya-nanya dan cerita ke keluarga, sampai akhirnya timbul pertanyaan ke diri sendiri “Cot.. Masa iya sih kamu mau berhijab tunggu sampai kamu jadi mayat?” Terus terang ngerasa takut dan gelisah sendiri mikirinnya, apa iya yah mungkin ini Hidayah dari Allah SWT untuk ngingetin aku untuk segera berhijab.

Akhirnya tanggal 31 Mei 2005 seminggu setelah kejadian itu, pagi hari sebelum ke kampus mendadak ngerasa bingung milih baju dan tiba-tiba pengen make baju putih yang dipake waktu umroh, sambil ngeliat ke kerudung yang jadi pasangannya. Sempat deg-degan dan ngerasa ga PD untuk keluar rumah, tapi dengan baca Bismillah hari itu akhirnya jadi hari pertama aku keluar rumah dengan berhijab. Waktu di kampus banyak teman-teman yang kaget dan bertanya-tanya, tapi seneng aja waktu mereka ramai-ramai memberi selamat dan mengucapkan Alhamdulillah, termasuk keluargaku yang ternyata sangat senang dan mendukung keputusanku untuk berhijab.

Hari ini walaupun sudah 6 tahun berhijab, aku masih terus berusaha untuk tetap istiqomah, karena merasa masih jauh dari sosok seorang muslimah yang sempurna dan masih perlu banyak belajar. Menurut aku berhijab itu seperti melaksanakan shalat, untuk mampu melaksanakan sholat lima waktu dan tidak bolong-bolong itu butuh proses dan waktu, begitupun dengan berhijab mulailah belajar untuk menggunakannya, karena lama-kelamaan akan terbiasa dan akan merasa malu bila tidak menggunakannya. Kalau tubuh dan aurat kita sudah tertutupi oleh hijab, InshaAllah hati, kata dan perbuatan kita pun akan ikut tertutupin dan terjaga oleh hijab  .

InshaAllah ceritaku ini dapat bermanfaat yah bagi teman-teman yang membacanya,,karena berhijab itu kewajiban bagi kita wanita muslim dan keistimewaan untuk menunjukkan identitas kita. Semoga kita semua tetap Istiqomah untuk berhijab .

written by: Dessy Anggreini

About these ads

3 gagasan untuk “Kafan itu Hidayahku Berhijab

  1. nila mengatakan:

    subhanallah.. baru tau kalo meninggal juga dijilbabin..

  2. Neki Arismi mengatakan:

    hiii .. agak serem juga yah kalau kita berjilbab pas sudah meninggal, sedangakan semasa hidup ga berjilbab

  3. Dessy mengatakan:

    Alhamdulillah makasih yah MariBerhijab akhirnya cerita aku dipublish juga..hehehe :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 14.287 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: