Kisah Berhijab Saya di Jerman

Rizka Rahmayani

Perkenalkan nama saya Rizka Rahmayani, bisa panggil saya Icha atau Rizka. Saya berumur 20 tahun. Alhamdulillah saat ini diberi kesempatan oleh Allah melanjutkan studi S1 di Martin Luther Universität, Halle, Jerman.

Awal Mula Berjilbab

Saya diperkenalkan jilbab oleh mama sejak saya TK di Banda Aceh. Ketika berumur 10 tahun dan harus pindah sekolah ke Jambi, saya masuk di SD yang tidak mewajibkan siswinya memakai jilbab.

Di Jambi saya bertemu dengan guru agama Islam, beliau menyapa saya dan bertanya, “kamu siswi yang pindahan dari aceh ya? ” iya bu.. “kok gak pake jilbab?” *jleb*. Keesokan harinya saya memutuskan untuk tetap berjilbab di SD negeri tersebut sampai sekarang.

Berjilbab di Negeri Orang

Ketika saya berada di bumi Allah yang lain, yaitu Jerman. Hidup jauh dari orang tua membuat saya sadar Allah-lah satu-satunya penolong saya. Allah-lah yang mengatur skenario hidup saya. Dan Jerman telah mengajari saya banyak hal terutama prinsip hidup.

Baca lebih lanjut

Tetap berhijab meski di negara mayoritas bukan muslim

Nazura GulfiraBeberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan dua teman lama. Pertemuan saya yang pertama ditemani dengan salah seorang sahabat lama yang bisa dikatakan belum lama menggunakan hijab. Dari berbagai obrolan kami, akhirnya ia melontarkan satu pertanyaan. “Zu, lo sampe sekarang masih ada kepikiran buat buka jilbab engga?”. Saat itu saya cuma tersenyum sebelum memberikan jawaban.

Hampir sebulan setelahnya, saya bertemu dengan salah satu sahabat saya yang saya kenal dari waktu dan tempat yang berbeda dari sahabat saya yang sebelumnya. Dari berbagai topik obrolan yang kami bicarakan, ada satu pertanyaan yang ia berikan. “Zu, lo nanti kalo udah di Inggris bakalan buka jilbab engga?” Dan kali ini saya bukan hanya tersenyum… tetapi tertawa.

Sangat mudah sebenarnya menjawab pertanyaan yang sudah familiar di telinga saya, yang sudah dilontarkan dari berbagai mulut yang berbeda. Sulit adalah ketika harus meyakinkan orang lain tentang sesuatu hal yang saya sendiri aja baru bisa meyakini diri saya setelah beberapa tahun menjalaninya.

Baca lebih lanjut

Ketika Hijab Menjadi Keindahanku

“Hari gini gak pake jilbab???”

Celetukan yang pernah aku dengar sekali dari mulut temanku. Alih-alih mengiyakan, aku malah terheran-heran. Memangnya kenapa kalau memang masih ada orang yang belum memakai jilbab. Toh, memakai jilbab itu bukan suatu trend, melainkan panggilan hati.

Aku sendiri mulai memakai jilbab sejak tahun 2005. Dimana waktu itu aku masih menjadi seorang waitress di salah satu resto jepang. Aku ingat betul alasan pertama kali memutuskan untuk memakai jilbab.

Saat itu dalam rangka Idul Fitri dan aku pergi bersilaturahmi dengan mengenakan jilbab seharian kemana-mana. Hari kedua perayaan Idul Fitri, aku sempat berpikir, “Kemarin, seharian aku mengenakan jilbab. Kalau hari ini aku keluar rumah dengan kepala pelontos maka malulah aku karena hanya menggunakan jilbab di saat-saat tertentu saja.” Akhirnya aku memutuskan memakai jilbab di hari-hariku kemudian.

Baca lebih lanjut

Hijab, I’m in Love!

Bulan ramadhan tahun 2003, adzan maghrib berkumandang di langit Cilacap. Saatnya melepas dahaga setelah kurang lebih 14 jam menjalani kewajiban perpuasa. Ahh sejuk sekali berbuka puasa ditengah keluarga sederhana namun penuh warna ini.

Usai berbuka dan shalat maghrib berjamaah, aku langsung sigap bersiap-siap menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Biasa, jiwa-jiwa semangat masih membungkus di darah gadis mungil berusia 11 tahun ini (penulis).

Layaknya anak-anak SD, tak pernah diliburkan oleh PR (Pekerjaan Rumah). PR pada bulan ramadhan kali ini adalah merangkum hasil kajian pada kuliah subuh dan khutbah tarawih selama bulan ramadhan. Aku mendatangi papan pengumuman di masjid untuk melihat siapa yang hari ini akan mengisi khutbah tarawih dan tema apa yang akan dibahas.

Baca lebih lanjut

Paksaan yang berbuah manis

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Nama saya  Anggie Haryani, 21 tahun, seorang mahasiswi yang insyaAllah segera lulus. Amiin.

Ingin sedikit berbagi cerita tentang hijab saya..

Alhamdulillah ini tahun ke 6 saya memakai hijab. Meski ngga inget tanggal pertama kali pakai hijab, tapi  yang saya ingat pertama kali saya memakai hijab saat masuk SMA. Awalnya, saya dipaksa oleh kedua orang tua. Alasan orang tua saya menyuruh memakai hijab karena memang bagi seorang wajib hukumnya untuk memakai hijab sesuai dengan perintah Allah SWT.

Sikap menolak sempat saya tunjukkan kepada mereka, apalagi setelah melihat seragam sekolah saya yang tiba-tiba jadi panjang semua. Bayangan saya melihat seragam-seragam itu adalah rasa gerah, panas, campur aduk deh. Hari pertama masuk sekolah saya jalanin dengan perasaan setengah tidak nyaman (maklum, baru pertama kali sekolah pakai hijab. hehe).

Baca lebih lanjut

Hijab membuatku mudah bergaul

Assalamu’alaikum hijabers…

Saya Adek Kharisma Rezal Fajrin, bisa dipanggil Adek. Saya seorang pelajar SMK di kota Malang, yang sekarang sedang menjalani Praktek Kerja Industri (Prakerin) atau magang di Sleman, Yogyakarta.

Saya juga pengen ikutan berbagi cerita nih, buat ukhti sekalian, tentang gimana awal mulanya saya memutuskan untuk berhijab, gimana nyamannya saat berhijab, dan apa saja yang saya alami setelah berhijab. So check this out, ukhti..

Awal saya memutuskan untuk istiqomah memakai hijab adalah saat awal saya duduk di bangku SMK. Sebelumnya saya sudah memakai hijab saat masih SD, tapi itu dulu. Saat SMP saya melepas hijab dengan alasan saya belum siap karna tingkah saya yang tidak bisa diam, bahkan bisa dibilang hyperactive.

Baca lebih lanjut

Perjalanan Panjang Untuk Berhijab

Assalamu’alaikum Wr. Wb. ukhti..

Nama saya Sarah Audia Hasna. Saya mendapatkan info tentang Mari Berhijab dari teman saya, waktu baca cerita pengalaman memakai hijab, saya menjadi tergerak untuk sharing juga.

Saya memutuskan untuk benar-benar memakai jilbab pada 9 Mei 2011, panjang sekali perjalanan saya sampai akhirnya memantapkan hati memakai jilbab..

Saya dilahirkan sebagai WNI keturunan arab, ayah saya arab jawa, mama saya arab betawi. Dari kecil saya dididik untuk memiliki fondasi agama Islam yang kuat. Sejak kecil saya sudah diajari mengaji di TPA, sholat 5 waktu, namun tidak diharuskan untuk berjilbab. Ibu dan tante-tante saya tidak ada yang memakai jilbab walaupun kami keturunan arab, tapi keluarga ibu saya sangat modern.

Baca lebih lanjut

11 Years With You

Tanggal 9 September 2011 kemarin, tepat sudah 11 tahun ku bersamamu. Berbagi suka dan duka. Melewati segala tangis dan bahagia. Banyak tempat telah kita kunjungi, juga banyak kejadian telah kita lewati. Terkadang aku merasa asing dan sendiri tetapi kau selalu melindungi dan menguatkan. Terlalu berat bila ku jauh darimu. Terlalu sulit melakukan banyak hal tanpamu.

Pernah ada yang bertanya, berapa lama aku bersamamu dan mereka terkejut dengan jawabanku. “Selama itu, tidak bosan? tidak ada masalah?“ tanya mereka. Lalu ku ceritakan kisah kita ketika aku masih sekolah menengah.

Aku suka sebal dengan kehadiranmu. Dengan adanya kamu, aku tidak bisa bebas berekspresi. Gaya ku terasa dibatasi. Semua serba ribet dan memusingkan. Aku merasa menjadi orang dengan gaya paling buruk, tidak gaul dan super kuper.

Ah, maafkan aku. Apa daya, itulah pikiranku dulu. Saat itu ingin rasanya aku meninggalkanmu. Untungnya aku berada dalam lingkungan yang mendukungku untuk selalu bersamamu. Hingga pada akhirnya aku dapat bertahan.

Baca lebih lanjut

Hijab Adalah Harga Mati

Assalamualaikum…

Perkenalkan nama saya Tsurayya Zahirah atau biasa dipanggil ‘Aya’. Alhamdulillah saya terlahir dari keluarga muslim yang mayoritasnya menggunakan hijab. Sejak kecil pemandangan orang-orang menggunakan hijab sudah sering saya temui.

Tapi kedua orangtua saya tidak lantas secara tersurat memintanya. Mereka hanya berusaha memperkenalkannya saja. Bahkan ada beberapa foto masa kecil saya saat mengenakan hijab yang pastinya dipakaikan oleh kedua orangtua. Mungkin itu salah satu cara mereka untuk memperkenalkan hijab kepada saya: ‘tanpa sebuah paksaan’.

Memasuki usia SD, saya mengenal beberapa teman yang menggunakan hijab. Pada saat itu hanya sebagian kecil saja teman yang sudah menutup auratnya diusia sebelum balig. Ada beberapa teman dekat yang membuat saya kagum karena kecantikannya setelah menggunakan hijab, tuturnya pun halus dan lembut. Entah tepatnya sejak kapan saya ‘mencoba’ menggunakan hijab.

Baca lebih lanjut

Muslimah ‘Resmi’ Yang Di Sandang

Assalamualaikum,

Menarik untuk di jadikan cerminan dan pengalaman berharga tentang bagaimana memulai hijab. ‘Berwarna’ cerita yang saya dengar saat masih belum menutup apa-apa yang di haruskan untuk melindunginya. Saya seorang amatir dalam berhijab dengan memproses diri agar hijab yang dipakai saat ini menjadi lebih baik lagi di mata Sang Al Malik.

Tidak lah mudah dalam hal ini, saat itu tentunya. Walaupun kalangan keluarga bisa dapat terhitung yang berhijab, saya sama sekali tidak terprioritaskan untuk menyusul setelahnya. Pun teteman saya yang kebanyakan memang mengidentitaskan diri dengan berhijab. Pandangan saya saat itu, hijab adalah kesiapan penuh para orang tua sebagai bentuk kedewasaan dalam kereligian. Tua-hijab-haji-mati.

Begitu kira-kira, bisa di baca bahwa kakunya saya akan hal-hal keimanan seperti itu, Astagfirullah. Tidak ada diantara para sahabat yang memaksa saya untuk berhijab seperti kebanyakan orang. Tidak sama sekali, sampai..

Baca lebih lanjut

Indahnya Berjilbab

Assalamualaikum ukhti,

Nama saya Nabila Ariani. Mau juga berbagi cerita tentang berhijab ukhti :)

Saya berasal dari Semarang tapi bukan orang kota, lebih tepatnya orang desa. Wajar saja seluruh keluarga besar saya lekat sekali dengan islami. Hampir keluarga besar saya wanitanya memakai jilbab. Waktu itu saya masih duduk dibangku SMA, selalu ada pengajian keluarga rutin tiap 1 bulan sekali. Sampai diotak saya masih teringat sekali sewaktu berdiskusi dengan isi kultum yang membicarakan tentang jilbab. Waktu itulah saya mulai berfikir ingin sekali untuk memakai jilbab.

Tapi, hati rasanya masih sangat sangat berat untuk melakukannya karena masih suka dengan dunia mode, masih sering ambil job yang menuntut saya untuk tidak memakai jilbab. Yah, itu lah yang membuat saya begitu berat. Berfikir dan berfikir nanti saja waktu saya masuk kuliah memakai jilbab. Ngomong sama papa dan mama “ma, pa, kalo nabila pake jilbab gimana?” kataku. “yaa bagus kalau begitu”, kata mama. “terserah kamu saja,papa senang. kalau memang sudah yakin pakai saja. papa nggak mau lihat kamu berjilbab tapi dilepas-lepas”, kata papa. Senang rasanya mendengar jawaban mama dan papa dengan tersenyum dan begitu mendukung saya.

Baca lebih lanjut

Awal Cerita Aku Berhijab

Saya tumbuh besar di lingkungan yang bukan religius, tetapi sejak kecil yang mengasuh saya mengajari sholat dan mengaji Al-Qur’an hingga khatam.

Hingga kelulusan SMP saya tidak banyak mendapat ilmu agama apalagi disuruh berjilbab, sama sekali tidak ada dalam pikiran saya. Setelah duduk di SMA saya baru mulai memikirkan untuk berjilbab, karena sekolah saya pada saat itu mulai mengenakan rok panjang dan setiap jum’atnya yang perempuan harus mengikuti kisi (semacam tausiyah sesama perempuan, bahkan pengajarnya juga perempuan). Dari situ dijelaskan bahwa perempuan wajib memakai jilbab, dijelaskan pada beberapa ayat bahwa haram hukumnya memperlihatkan aurat dengan yang bukan mahramnya.

Astagfirullah! Saat itu saja saya sudah berdosa belum lagi ditambah dengan dosa-dosa lainnya. Tapi, karena saya belum mendapat bimbingan lebih dari rumah sehingga hal tersebut lambat laun terlupakan.

Baca lebih lanjut

Kalo Bukan Sekarang Kapan Lagi?

Assalamu’alaikum,

Senang rasanya ada wadah yg bisa memotivasi kaum wanita untuk memakai hijab, selain karena menggunakan hijab adalah wajib hukumnya. Awalnya saya bingung apa yg saya harus cerita agar setidaknya bisa menginspirasi teman-teman yang mau memakai hijab, mungkin cerita saya ini tidak terlalu spesial atau hampir sama dengan cerita teman-teman tapi gapapa ya, inshaallah bisa tambah memantapkan teman-teman untuk memakai hijab. Aamiin..

Semakin dipikirkan semakin banyak alasan

Sebetulnya saya sudah lama ingin memakai hijab, tapi ya itu memang selalu saja banyak perdebatan dengan diri sendiri, semakin dipikirkan semakin banyak alasan yang memberatkan keinginan berhijab, dan ga jarang keinginan itupun naik turun. Awalnya saya berkeinginan untuk memakai hijab kalo sudah menikah saja toh saya ingin hanya suami saya yg berhak atas saya, hal inipun membuat saya mengulur-ulur waktu untuk memakai hijab.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 18.042 pengikut lainnya.