Keputusanku Berhijab

13 September 2009 lalu, sebulan setelah sekembalinya saya dari Jerman, di usia 22 tahun, saya memutuskan untuk mengenakan jilbab. Saat itu adalah bulan suci Ramadhan dimana umat sedang menjalankan ibadah puasa. Jika ditanya kenapa saya “tiba-tiba” ingin mengenakan jilbab, maka saya pun akan kebingungan dalam menjawabnya. Tidak ada perjalanan religi tertentu yang membuat saya mengubah cara berpakaian saya ini. Bahkan ketika berada di Jerman, saya cenderung “lupa” dengan peraturan Islam untuk hal berpakaian & makanan. Sampai suatu ketika saya duduk di dalam Strassenbahn (Trem) dan disuguhi 2 pemandangan kontras, ada 1 keluarga Turki yang terdiri dari Ayah, Ibu yang mengenakan hijab, dan juga seorang anak perempuan yang manis, dan ada sepasang kekasih yang asik bermesraan tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Si anak Turki itu melihat kepadaku dan tersenyum hangat, begitu pula ibunya. Saya pun membalas tersenyum. Disini saya sadar, bahwa alangkah beruntungnya saya mendapat hidayah iman kepada Allah dan memeluk agama Islam. Kenapa? Karena Islam mengajarkan budaya malu! Malu menampakkan aurat, malu bermesraan di depan umum, malu menjadi orang yang ignorant. Subhanallah.

Sepulangnya dari Jerman, saya kembali galau. Salah satu alasannya adalah karena ayah saya telah sering menanyakan kepada saya kapan saya akan berjilbab. Dahulu saya hanya menjawab sambil lalu, “nanti yah, kalau udah siap.” Namun entah mengapa, pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di benak saya.Mengingat umur beliau yang sudah tua, maka saya terus berpikir, >>Sampaikah umur ayah nanti untuk dapat melihatku dalam keadaan berjilbab? Apakah nanti ia dapat melihatku dengan tatapan senang dan bangga saat melihatku ‘akhirnya’ berjilbab?<< Selain itu, memang hanya saya wanita yang belum mengenakan jilbab di keluarga. Alasannya simpel, “belum siap.” Belum siap menutup aurat, belum siap merelakan sebagian besar pakaian minim untuk pensiun dini, belum siap kegerahan karena memakai jilbab, belum siap untuk berperilaku sebagai seorang muslimah sejati, merasa belum pantas untuk mengenakan jilbab karena sholat saja masih suka bolong, hahaha. Banyak sekali alasan yang dicari-cari.

Alhamdulillah, hari itu, entah kenapa saya ingin sekali ‘berlatih’ mengenakan jilbab. Saya melatih diri untuk mengenakan jilbab pada saat saya bertemu dengan pacar saya. Terus-terang dia bukan tipe pria yang mengharuskan saya berjilbab, namun dia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada saya. Dia pernah bilang, “Kalau kamu tidak berjilbab, aku senang dan fine2 saja, namun kalau kamu berjilbab, aku lebih senang dan bangga.”🙂 Dia juga yang mendukung saya sepenuhnya dalam transisi ini. Alhamdulillah saya memiliki dia yang sangat pengertian. Prosesnya ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Mungkin itu dikarenakan semua lingkungan terdekatku sangat mendukung perubahan baik ini. Alhamdulillah saya berada di lingkungan yang baik dan sangat toleran terhadap orang lain. Selain itu banyak teman-teman, sanak-saudara, dan kerabat yang memuji penampilan baru saya. (haha, satu lagi nilai plus berjilbab wahai para sahabat, kita jadi terlihat makin cantik dan rapi di hadapan orang2 *yang tentu aja cantik ala muslimah which is very good and positive*)😉

Sampai saat ini, saya tidak menyesali keputusan saya untuk menutup aurat. Walaupun memang pada hari-hari tertentu ketika cuaca sedang sangat tidak bersahabat, banjir keringat pun membasahi tubuhku. Namun itu tidak seberapa dibandingkan panasnya api neraka yang akan kuterima apabila aku tidak menutup aurat sampai akhir hayatku. Karena tidak dapat dibantah lagi, menutup aurat adalah perintah dari Allah SWT yang terdapat pada QS. An-Nuur: 31, yaitu:

(Wahai Rasulullah) Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali sesuatu yang (biasa) tampak darinya. Hendaknya mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka (sehingga dada mereka tertutupi), janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali untuk suami-suami mereka, atau ayah dari suami-suami mereka atau putra-putra mereka, atau anak laki-laki dari suami-suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara-saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki dari saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka atau budak-budak mereka atau laki-laki (pembantu di rumah) yang tidak memiliki syahwat atau anak kecil yang tidak paham terhadap aurat wanita. Dan janganlah kalian mengeraskan langkah kaki kalian sehingga diketahui perhiasan yang tertutupi (gelang kaki). Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian semua kepada Allah swt supaya kalian termasuk orang-orang yang beruntung.

Banyak wanita yang berdalih seperti ini, “ih..malu udah berjilbab kelakuannya masih tidak benar, mending jilbabin dulu aja hatinya..” Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa menjilbabi hati kita? Dalam Alqur’an dengan tegas menyatakan bahwa yang harus berhijab adalah tubuhnya, bukan hatinya. Selain itu, sampai dimana seseorang merasa bahwa hati mereka telah “berjilbab”? Jika kita menunggu agar perilaku dan sifat kita sebaik Siti Khadijah r.a. baru kita mengenakan jilbab, alangkah sia-sia perbuatan dan perilaku baik kita selama ini. Karena bagaimanapun, jika kita belum berhijab, kita belum sepenuhnya mengikuti perintah Allah SWT. Perbaikan perilaku dan sifat adalah sebuah proses yang dapat dilakukan sewaktu kita berhijab. Jilbab untuk saya pribadi ‘hanyalah’ sebuah pakaian yang diwajibkan Allah SWT untuk melindungi dan menghargai kaum perempuan itu sendiri.

Wahai sahabat-sahabatku, segeralah berhijab, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan kafir, dan tidak berhijab.

“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

All women look very pretty when they’re wearing hijab.. Even prettier as before!🙂

written by: Ola Aswandi

founder of MISLA 

committee of @hijaberscomm

initiator of @mariberhijab

9 thoughts on “Keputusanku Berhijab

  1. […] have shared my own hijab story in this blog. You can read it HERE. But trully sorry because everything in there is written in Bahasa […]

  2. […] have shared my own hijab story in this blog. You can read it HERE. But trully sorry because everything in there is written in Bahasa […]

  3. Febri mengatakan:

    WAAH !!ceriita mba hampiir miriip ceriita aku pertama kalee make jilbab😀
    Jilbab memang uda jadi keharusan bagi wanita wanita muslim

  4. Intan Noor mengatakan:

    Salut buat semua wanita2 muslimah yang berhijab, mereka semua luarbiasa. Karena memutuskan untuk berhijab itu berat, namun jika kita kembali lagi pd ayatnya, insyaallah kita bisa menjalani dg ikhlas selamanya. Amin😉

  5. Azan mengatakan:

    nice try.. makin dalam dipelajari, islam makin ketahuan indahnya. Hanya orang yg cerdas dan punya penghayatan halus yang sampai kepada Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: