Hijab Menjadikanku Ikhlas

Assalamualaikum. Nama saya Indah Novianti dan saya mau berbagi tentang #ceritahijab saya. Semoga bermanfaat🙂

Saya berasal dari keluarga muslim, dan alhamdulillah semua keluarga saya beragama islam. Dari kecil saya sudah diajarkan sholat, mengaji, membaca doa, sampai diminta secara tidak langsung oleh orang tua saya untuk menutup aurat. Hanya saja pada saat itu saya bilang tidak mau, karena banyak alasan,  panas lah, ini lah, itu lah.

Waktu SMA saya sekolah di ALAZHAR BSD, sekolah memang tidak mewajibkan siswinya memakai hijab, hanya saja rok siswinya wajib panjang dan pada saat itu saya belum tergerak hatinya untuk mengenakan hijab. Saya tidak mau berhijab tapi sholatnya masih bolong-bolong (malu sama hijabnya) dan pada saat itu saya berpikiran tidak perlu memakai hijab jika blum siap. Lebih baik dihijab-in hatinya dulu, baru fisik luarnya. Kemudian saya masuk ke Universitas Pelita Harapan (UPH) yg dimana mayoritas mahasiswa/i disana non-muslim. Pada semester awal hanya saya satu-satunya mahasiswi muslim yg berada di kelas B. Karena lingkungan saya mayoritas non muslim, saya pun belum mempunyai keinginan utk berhijab. Malah saya senang memakai baju yang terbuka.

Saya menikah pada tanggal 13 april 2008, saat itu suami meminta kepada saya agar saya menutup aurat saya. Dia akan merasa bangga kalau saya berhijab. Tapi permintaan sang suami tidak langsung saya turuti karena menurut saya “memakai hijab itu harus dari hati, dan atas kemauan sendiri”.

Saya mengikuti pengajian di komplek rumah saya. Kebetulan saya adalah yg termuda diantara ibu-ibu pengajian yg lain. Hanya setiap rabu saya memakai hijab. Hampir semua orang bilang saya lebih cantik jika memakai hijab. Saya tidak tahu mereka sungguh-sungguh atau supaya saya tertarik dan terus memakai hijab. Permintaan suami tidak pernah berhenti. Hampir setiap hari menanyakan ‘kapan kamu berhijab?’ Dan saya pun selalu menjawab hal yg sama kepada suami saya. Yaitu, “saya belum siap dan jangan paksa saya!”

Pada saat pengajian, saya pun memberanikan diri menanyakan kepada ustad “Pak ustad jika seorang suami meminta istrinya utk berhijab, dan si istri tidak melaksanakannya dgn alasan belum siap, apa hukumnya?” Lalu ustad itu menjawab “Maka si suami menanggung dosa istrinya tersebut selama dia belum berhijab. Karena menutup aurat bukan perintah suami, melainkan kewajiban atas seorang muslim”.  Lalu saya ceritakan hal tersebut kepada suami saya, dan sang suami bilang “Masa kamu tega ngasih aku dosa kamu terus? mau sampe kapan?” Dan sayapun menjawab “nantii.. sampai aku siap!”

Kemudian pernikahan kami menginjak tahun kedua, pada saat Januari 2010 saya memutuskan untuk berhijab. Mau menutup aurat saya. awalnya saya memakai hijab karena saya suka sekali memakai maxi dress. Karena merasa maxi dress saya sudah mulai banyak, sayapun awalnya mencoba-coba keluar rumah memakai hijab. Ke mall memakai hijab, dan kemana2 memakai hijab.. Hanya saja awalnya dan sampai sekarang saya belum bisa memakai hijab dengan menggunakan peniti sampai rapih. Susah skali menurut saya.

Hari pertama, kedua, ketiga sampai bulan ke 6, saya masih menggunakan hijab. Hanya saya karena belum sepenuh hati memakainya, sholat sayapun masih bolong-bolong. Sering kegerahan, sering kerepotan, dan merasa ribet. Akhirnya saya membuka kembali ‘aurat’ saya. Jujur saya merasa malu, tapi kembali lagi kepada ketidaksiapan saya. Sebelum memakai hijab ada ketakutan-ketakutan yg ada di diri saya. Saya takut dianggap sok baik, saya takut dianggap sok suci, saya takut teman-teman baik saya meninggalkan saya, saya takut dijauhi lagi oleh mereka, saya takut di bilang fanatik terhadap agama, saya takut dibilang aneh (teman-teman baik saya mayoritas non-muslim).

Pada saat arisan bersama gank saya, saya deg-degan bukan main. Takut mereka menganggap saya aneh, dan saya mulai merasa minder duluan. Tapi alhamdulillah, teman-teman arisan saya mendukung saya. Ketakutan-ketakutan yang saya pikirkan ternyata tidak terjadi sama sekali. Malah mereka sering mengingatkan saya untuk sholat, doa, puasa, dll.. Saya sangat terharu atas perhatian teman-teman saya yang rata-rata non-muslim.

Pada saat memutuskan untuk berhijab, suami, orang tua, mertua dan teman-teman saya senang melihat perubahan penampilan saya. Alhamdulillah, sayapun merasa ikut senang karena banyak support dari orang2 yg saya cintai. Tapi entah kenapa, hijab saya hanya bertahan 6 bulan. Pertengahan Juni saya melepas hijab saya. Pada saat itu suami atau keluarga tidak marah, hanya menyayangkan saja, “Udah cantik-cantik ditutupin, koq sekarang dibuka-buka lagi?” Tapi saya tetep bersikeras untuk melepas hijab saya dan berpikir akan memakai hijab ketika sudah punya anak nanti.

Sebelum memasuki tahun ketiga pernikahan kami, ayah mertua saya sakit, dan dioperasi jantung. Pada saat ibu-ibu pengajian menjenguk beliau,  hanya saya satu-satunya wanita yg tidak berhijab. Mertua saya pun menegur, “Vie kamu gak malu, yang lain pake hijab kamu ngga??” Dan ketika itu omongan tersebut sangat mengena dihati sampai-sampai teringat terus perkataan mertua saya. Saya tidak sakit hati hanya merasa malu dan memang itu kenyataannya.

Memasuki pernikahan tahun ketiga, cobaan yang kami alami semakin banyak dan berat. Sampai hari ini kami belum juga dikaruniai keturunan oleh Allah SWT. Sempat juga merasa down karena merasa doa saya belum dikabul-kabulkan sama Allah. Lalu saya berpikir “Mungkin Allah belum mengabulkan doa-doa saya karena saya tidak melakukan perintah-Nya. Salah satunya yaitu berhijab! Ibaratnya ‘gimana mau dikasih keturunan, diwajibkan memakai hijab aja ga dilakuin’.

Awalnya saya memutuskan untuk berhijab kembali pada saat ulang tahun suami saya yg ke 30. Saya berpikir ingin memberikan kejutan kepada suami saya. Namun tepat dihari ulang tahun suami saya yg ke 30 tahun yaitu tanggal 6 april 2011 saya harus menjalani operasi. Terdapat kista pada saya dan harus dioperasi, saya benar-benar sedih. Saya tidak bisa berhenti menangis saat itu mengingat saya baru saja mengikuti program hamil. Tetapi Allah berkehendak lain, kista saya tumbuh lagi dengan ukuran yang lebih besar dari sebelumnya. Kemudian, pada saat saya down, saya menguatkan pada diri saya sendiri dan juga menguatkan suami saya agar kita harus ikhlas, sabar dan tawakal.

Lalu pada tanggal 27 Maret 2011 akhirnya saya memutuskan untuk kembali berhijab. Bukan atas permintaan siapapun, atau paksaan dari pihak manapun, melainkan hati saya sudah tergerak untuk menutup aurat. Ya, pada tgl 27 Maret itu saya mulai berhijab! Setelah saya berhijab, ada kekuatan-kekuatan tersendiri yg membuat saya jauh lebih tegar menghadapi operasi dan menghadapi cobaan yg kami alami. Dengan hijab pula, sholat saya lebih terjaga dan dengan berhijabnya saya, saya lebih merasa ada kedamaian, ada ketenangan, ada keikhlasan disetiap cobaan saya. Dengan berhijabnya saya, ternyata bisa membuat suami, orang tua, mertua, keluarga, dan teman-teman saya bangga akan saya. Memang dari dulu orang tua saya berharap saya menutup aurat. Suami juga berharap saya berhijab, mungkin ada kebanggaan tersendiri buat suami saya jika saya mengenakan hijab. Aurat saya hanya bisa dinikmati oleh suami saya saja, dan dia selalu bilang “Wanita cantik tanpa hijab itu biasaaa.. Tapi wanita cantikk berhijab ituu luar biasa skalii..”
Alhamdulillah, menginjak 3,5 tahun pernikahan kami, Insyaallah saya dan suami saya ikhlas dengan rencana Allah buat kami, dan kami yakin someday Allah pasti mengabulkan doa-doa kami yaitu agar kami segera memiliki keturunan yg soleh dan solehah. Aamiin YRA.
Walaupun saya pemula dalam berhijab,insyaAllah hijab saya awet selamanya.. Amien ya Rabb.

Berikut ini nikmat yang saya alami setelah memakai hijab:

  1. Sebelum pake hijab selalu di godain..’Suit..suit..cewek kenalan dong’. Setelah pake hijab, mulut orang-orang iseng itu lebih terkunci, walaupun masih ada aja 1 or 2 orang yang tetap iseng.
  2. Hijab menjaga sholat 5 waktu saya
  3. Merasa lebih ‘aman’ karena pakaian kita menutup aurat kita.
  4. Sering sekali mendapat pujian “kamu cantik sekali.. Atau kamu lebih cantik kalo berhijab”
  5. Hijab juga membuat tutur kata saya jauh lebih terkendali. Sangat berusaha untuk tidak bicara kotor or kasar.
  6. Hijab memberikan kebanggaan tersendiri untuk suami, orang tua, mertua dan keluarga.
  7. Aurat kita hanya milik suami. Suami yg boleh liat kita secara keseluruhan.
  8. Dengan berhijab, lebih menyemangati saya agar selalu menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
  9. Dengan berhijab, keinginan saya untuk umroh dan naik haji semakin besar.
  10. Dengan berhijab pula, saya jauh lebih bisa ikhlas dan menerima keadaan saya.
  11. Setelah saya berhijab, banyak kemudahan yg saya alami dan rejeki datang dari pintu manapun. Tanpa diduga-duga. Alhamdulillah.
  12. Dan dengan hijab pula, saya ingin adik saya, kakak-kakak saya, dan kakak ipar saya segera mendapatkan hidayah dari Allah SWT untuk menutup aurat mereka. Aamiin YRA.
written by: Indah Novianti
Ibu Rumah Tangga

8 thoughts on “Hijab Menjadikanku Ikhlas

  1. dewi mengatakan:

    Amin..tetap ikhtiar dan doa mbak, smg segera diberi keturunan🙂

  2. windy mengatakan:

    Inspiring story nov…very sincere:)

  3. subhanallah mba🙂 smoga istiqamah…. dan emang bener apa kata orang, mba indah emang cantik🙂

  4. Lia mengatakan:

    alhamdulillah bebiiii, im happy for you, doakan aku menyusul yahh…kalo kata bioskop : coming soon :p

  5. Eka mengatakan:

    amin…!
    very honest, sincere, moving and beautiful piece of writing.
    my prayers are always with you and your family, may your wishes come true soonest!

  6. rachma mengatakan:

    subhanallah mba…
    perjuangannya pasti akan dibalas lebih baik oleh Allah SWT
    🙂

  7. deasi mengatakan:

    amin…. yang terbaik buat saudari ku ini… lup u…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: