Tiba-tiba Berhijab

Assalamualaikum, Ukhti

Nama saya Larasati Purwahyuningtyas.
Saya mau share tentang keputusan berhijab. Tanpa mengurangi rasa hormat dan terkesan menggurui, saya mau bercerita dan pandangan saya terhadap hijab.🙂

Dulu, buat saya hijab adalah sesuatu yang mengganggu. Mengganggu kegiatan, karier (rezeki), dapet jodoh dan pandangan negatif dari orang. Boleh dikatakan, dulu saya termasuk orang yang hedon. Pergi malem pulang pagi, jarang shalat (bukan bolong-bolong bahkan jarang), suka belanja baju-baju minim dan kemana-mana harus seksi. Minimal yaa pakai rok sepaha walau baju lengan panjang. Dan pacar saya sangat mendukung, apalagi kalau saya potong rambut sesuai kemauan dia.

Sampai suatu saat kakek saya menegur dan saya hiraukan. Keluarga saya termasuk keluarga yang cukup religius. Ada guru ngaji setiap habis magrib, papa suka ngajak istri dan anak-anaknya berjamaah tapi saya selalu punya alasan untuk nggak ikut. (FYI: padahal, waktu TK saya masuk TPA dan saya khatam Al-Quran pada kelas 2 SD) Terlebih lagi pada waktu kelas 4 SD, saya masuk ke sekolah swasta yang tidak terlalu mementingkan agama.

Tiba-tiba, ketika SMA kelas 3 saya mulai tertarik dengan pelajaran agama. Awalnya, ketertarikan saya adalah ketika mendapat oleh-oleh dari mama papa saya dari Mekkah waktu ibadah haji. Oleh-olehnya berupa Al-Quran kecil warna hijau bludru. Karena Al-Quran itu saya jadi tertarik untuk selalu baca. Bentuknya yang buat gemes juga. Hehe. Tapi saya penasaran, saya baca Al-Quran tapi nggak tau artinya.  Dan saya memutuskan untuk pergi ke toko buku untuk beli Al-Quran yang ada artinya. Sebenarnya,di perpustakaan rumah ada tapi saya nggak tertarik dan memutuskan untuk beli yang baru. Saya lihat dan berpikir “Al-Quran model dan motifnya bagus-bagus ya. Jadi semangat lihatnya”. Subhanallah, Al-Quran membuat saya semakin dekat dan berusaha terus mendekat dengan agama. Tapi tetap aja saya belum tertarik bahkan belum minat pakai hijab. Bahkan kalau ditanya saudara papa, saya selalu jawab “belum dapet hidayah, belum pede aja”. Setiap lebaran, pasti ada aja pertanyaan begitu.

Setelah UAN, tiba-tiba saya pakai hijab. Semua orang kaget. Karena mereka tau bagaimana saya. Malah ada yang bilang “munafik”. Kalau kemana-mana saya pakai. Yaa,walau belum sempurna. Hijab belum menutup dada, lengan baju nya masih se sikut. Haha. Kalau saya pikir-pikir sekarang “La,itu tangan nya ngapain sih dulu dibuka-buka. Jd jelek keliatannya”. Papa dan mama saya ketika itu senangnya minta ampun. Subhanallah, banyak yang mendukung. Tapi tetap aja banyak judge, sindiran bahkan pertanyaan frontal “udah taubat,La?”/ “bagusan nggak pake jilbab”/ “setengah-setengah nih pasti”/ “ah,munafik lo pake jilbab! kan jilbab cuma buat wanita baik-baik”. Jujur, saya pusing dan agak sakit hati dengar pertanyaan dan kata-kata itu. Bahkan pacar saya bilang, “ih, muka kamu jadi keliatan bulet kalo pake jilbab”. Tapi entah kenapa, semua itu malah buat saya tertantang. Tapi,mental saya untuk menerima tantangan itu belum kuat. Dan bersyukurnya, walaupun mental belum kuat, saya tetap memakai hijab.

Tapi subhanallahAllah membantu saya dalam berjuang di jalan-Nya. Saya diterima di Universitas Indonesia nggak lama setelah saya pakai hijab, bisnis saya berjalan amat sangat lancar dan klien saya berdatangan. Dan saya sadari, bahwa pribadi saya sedikit berubah menjadi lebih baik. Saya meninggalkan hal-hal yang buruk dan selalu belajar. Walau pada saat belajar, ada saja halangan atau keraguan. Semua itu dari lingkungan yang terkadang kurang mendukung.

Tapi saya berpikir, Allah sayang sama saya. Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menutup aurat selama hidup. Yang tadinya saya berpikir kerudung akan menghambat aktivitas saya, tapi semua itu TIDAK BENAR. Bahkan saya bekerja di dua tempat sekaligus dan bisa melakukan lebih dari satu kegiatan. Yaitu Saya seorang mahasiswa, operational manager dari salah satu perusahaan travel terkenal di Bali, founder of eL organizer dan public relation dari organisasi muda INSAN MUDA INDONESIA. Dan rezeki saya? Alhamdulillah saya maju dibisnis saya dan banyak meraup omzet dari bisnis saya. Masalah pekerjaan, dengan berhijab,saya masih bisa tampil modis. FYI,rata-rata teman-teman saya di organisasi IMI adalah non muslim dan kalau ada pertemuan, pakaiannya seksi. Tapi Alhamdulillah,tidak ada yang mengucilkan. Karena disukainya orang itu atau tidak bukan karena hijab! Tapi karena personaliti yang baik dan kedewasaan diri. Lalu dengan jodoh? Akhirnya saya putus dengan pacar saya karena dia kurang mendukung saya memakai hijab dan itu tidak baik untuk agama saya.(Sebenarnya ada masalah lain,tapi alasan itu salah satu nya sebagai referensi kenapa saya putus). Dan alhamdulillah sekarang saya mendapat seorang laki-laki, religius pula, yang lebih baik dan akan menikah.

Pikiran-pikiran saya tentang kerugian memakai hijab HILANG setelah saya merasakan kebesaran Allah setelah memakai hijab. Tanpa hidayah sebelumnya, saya mampu memakai hijab dan bertahan sampai sekarang. Jadi, pakai hijab tidak perlu menunggu hidayah atau tidak perlu menunggu “suci/jadi baik-baik”. Karena hijab itu kewajiban ukhti sekalian. Kalian baik/buruk, tetap saja wajib menggunakan hijab.😉

written by: Larasati Purwahyuningtyas

4 thoughts on “Tiba-tiba Berhijab

  1. Alhamdulillah sekali tidak ada kerugian memakai hijab yaa….aku jadi semakin yakin dan insya allah akan selalu istiqomah..amiinn

  2. wenimeilita mengatakan:

    wah lala hebat,ternyata kisah perjuangan menggunakan hijabnya sungguh menginspirasi.. Semoga Allah selalu meridhoi kamu ya la

  3. yamaruhandmade mengatakan:

    keep in Allah way….aminn you look soo beautiful

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: