Hidayah yang Saya Pegang Sampai Mati

Saya memutuskan untuk berjilbab pada tahun 2004, di usia saya yang ke 22. Saat itu, saya bekerja sebagai pramugari di Saudi Arabian Airlines dan home basenya di Jeddah. Bagi saya pribadi, memakai jilbab bukanlah sesuatu yang baru atau canggung, karena saat itu saya memang tinggal di Jeddah, dimana setiap wanita yang keluar rumah diharuskan untuk berkerudung. Tapi keputusan saya berjilbab bukan karena saya sudah terbiasa dengan jilbab sebelumnya, melainkan ada suatu moment yang membuat saya tersadar akan: MATI. Tidak ada seorang pun yang tau kapan mau menjemput, dan saat itulah saya merasa ingin memenuhi segala kewajiban agama.

Awal kejadiannya begini. Waktu itu saya ada flight dengan rute Jeddah-Riyadh. Sampai di bandara Riyadh sekitar jam 1 dini hari. Bandara sudah sepi sekali. Sewaktu saya berjalan di bandara, masih di area gate pesawat, di gate yang lain saya melihat ibu tua terbaring dan didekatnya ada 2 orang yang belakangan saya tau adalah anak dan menantu ibu tua itu. Penasaran, saya datangin. Ternyata ibu tua itu tidak sadarkan diri. Berbekal ilmu tentang first aid, saya mencoba menyelamatkan ibu tua itu. Ketika saya periksa nafas dan denyut nadinya, ternyata nafasnya tidak ada dan denyut nadinya lemah sekali. Segera saya minta tolong salah seorang dari mereka untuk mendatangi petugas yang masih ada di bandara supaya menelfon rumah sakit, sementara saya berlari balik ke pesawat untuk mengambil AED (Automated External Defibrillator). Saat itulah crew yang masih ada di pesawat mengetahui kejadian ini. Dibantu mereka, saya mencoba menyelamatkan ibu tua itu dengan alat AED.

Seorang crew mendampingi saya sambil bertanya kronologis kejadian kepada anak dan menantu ibu tua itu. Berkali-kali saya melakukan CPR tetapi ibu tua itu tidak kunjung bernafas. Salah seorang crew yang membantu saya malah bilang kalau kaki ibu tua itu sudah dingin, sepertinya tidak tertolong. Pertama kalinya saya benar-benar merasakan malaikat maut ada di sekitar saya untuk menjemput seseorang disitu. Tapi saya tetap berusaha melakukan CPR sampai pertolongan medis dari rumah sakit datang. Alhamdulillah dalam hitungan kurang dari 5 menit, pertolongan medis datang dan segera saja mereka melakukan tindakan yang lebih serius kepada ibu tua itu. Sampai akhirnya mereka membawa ibu tua itu dengan ambulans. Sebelum pergi, salah seorang tenaga medis berkata kepada saya “You did a good job even though I’m not sure this woman will be ok because I think she has been unconscious for long time. Thank you”. Saya membalasnya dengan tersenyum. Setelah ambulans pergi, saya disibukkan dengan report untuk office atas penggunaan equipment di pesawat. Kemudian saya dan seluruh crew pergi ke hotel.

Sampai di hotel, saya masih kepikiran peristiwa tadi. Apa yang ada di benak anak dan menantu ibu tua itu? atau bahkan di benak ibu tua itu sewaktu mereka masih di pesawat? Adakah yang sempat terpikir bakal kejadian seperti ini? Pastinya tidak, apalagi kalau ibu tua itu sehat-sehat saja sebelumnya. Saya sampai ga bisa tidur, apalagi lampu kamar hotel udah dimatiin. Jadi gelap jadi mikir: kalau saya tiba-tiba mati, gimana yaaaah?? Persiapan amal apa ajah yang udah saya lakuin?? Kewajiban apa yang belum sempat saya tunaikan? Alhamdulillah 5 rukun Islam udah tertunaikan…tapi apakah itu ajah yang wajib?

Jadi teringat kata-kata papih saya setiap saya pulang vacation setahun sekali : “Kapan mau pake jilbab? Pake donk sebagai bentuk rasa syukur kamu karena kamu udah ngedapetin banyak hal yang belum tentu orang lain dapetin, apalagi untuk orang seumuran kamu. Udah naik haji, sering umroh, jalan-jalan keliling dunia, rejeki berlebih… Apa masih kurang untuk disyukuri? Ingat firman Allah: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambah nikmat untukmu…(QS 14:7)”. Belum lagi tambahan lainnya dari beliau “Pake jilbab itu wajib, sama kayak shalat. Bedanya, kalau shalat ditinggalkan satu, misal shalat dzuhur. Perumpamaan dosanya sepanjang shalat dzuhur ajah. Kalau shalat lainnya dijalanin yah ga kena dosa. (Maaf yah tanpa bermaksud mengecilkan dosa meninggalkan shalat -penulis). Kalau ga pake jilbab, dosanya terus menerus terhitung selama kita menampakkan aurat kita. Bayangin ajah kalau sehari kita keluar rumah ketemu bukan mahram selama 12 jam, dosanya terus-terusan tuh selama 12 jam itu.”

Hampir semaleman saya mikir soal pake jilbab. Saya meyakini itu wajib, tapi kenapa saya belum menjalaninya yah? hmmmm.. mungkin karena profesi saya kurang mendukung. Meskipun seragam Saudia Airlines memakai kerudung dan membolehkan kita untuk menambahkan daleman kalau kita emang memakai jilbab, tapi sebagai orang yang benar-benar mencintai profesi, saya mikir masa’ karir saya cuma di satu airlines? Kepengen juga mengembangkan sayap ke airlines asing lainnya yang lebih besar hehehehe. Alasan lain, saya suka sekali dengan pantai! Kalau di pantai, saya suka memakai pakaian yg tipis dan minimalis. Ga malu? Hehehehe waktu itu saya mikirnya badan saya kan tipis dan minimalis juga. Wong temen SMA ada yang manggil saya twiggy (panggilan untuk salah satu model terkenal tahun 1960-an asal Inggris), saking kurusnya saya hahahaha! Nah saya mikir, kalau pake jilbab, gimana gaya saya kalau ke pantai?? Ga bisa lagi donk maen-maen di pantai??

Saya keukeuh masih mencoba mengenyahkan pikiran soal jilbab dan mengalihkannya dengan amal perbuatan yang lain. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Saya ga bisa bener-bener ngelupain kewajiban memakai jilbab. Ga pake pikir panjang, akhir 2004 setelah lebaran, saya segera memutuskan berjilbab. Ga ada persiapan apa-apa. Makanya waktu mau terbang, saya langsung pinjem daleman kerudung punya teman yang berjilbab. Baju-baju lainnya terserahlah, toh selama di Saudia saya keluar rumah memakai abaya. Kalau pas terbang ke luar negeri, pake abaya lagi atau ditambahin jaket ajah untuk baju lengan pendek. Pokoknya saya mau pake jilbab, karena saya ga tau kapan maut menjemput dan saya ga mau meninggal dalam keadaan masih ada kewajiban yang belum ditunaikan. Kalau soal ke pantai atau jalan-jalan ke tempat lain, not a big deal. Saya udah dapet kesempatan yang jauh lebih besar dari keliling dunia, yaitu keliling ka’bah di waktu haji! 

Teman-teman dekat saya sempat kaget melihat saya berjilbab. Tapi mereka mendukung. Bahkan perlahan satu per satu mulai memakai jilbab juga. Saya ga mau GR kalau mereka terinspirasi dari saya (saya masih jauh dari sosok yg menginspirasi), tapi yang jelas punya teman-teman yang berlomba-lomba dalam kebaikan emang menyenangkan sekali. Alhamdulillah sekali!

Sekarang saya udah ga jadi pramugari lagi….dan itu keputusan bulat dari saya sendiri. Dua tahun setelah saya memakai jilbab, saya memilih untuk resign dari airlines dan melanjutkan kuliah. Saya berpikir kalau profesi pramugari bukanlah profesi yang long term, dalam arti dibatasi usia. Apalagi kalau base airlinesnya di luar negeri….kalau udah berkeluarga, masa’ mo ninggalin suami dan anak-anak sepanjang tahun, pulang ke Jakarta cuma sekali setahun pas jatah vacation?? Saya kuliah karena saya pengen punya bekal untuk bekerja kalau suatu saat kondisi saya mengharuskan untuk bekerja di kantor.

Dan keputusan resign ini juga sekali lagi mengagetkan teman-teman saya. Ga nyangka, lagi asik-asiknya terbang, menikmati jadi senior, trus saya tiba-tiba mo kuliah…reguler pula! Berarti yang biasanya punya penghasilan, jadi ga punya penghasilan bahkan mengeluarkan uang untuk biaya kuliah. Tapi saya pede ajah, I call it sacrifice… Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian deh; Alhamdulillah selama kuliah saya full dapet beasiswa mahasiswa berprestasi. Saya juga masih sempet terbang lagi looooh, kali ini cuma untuk penerbangan haji. Kali ini saya join Air Atlanta Icelandic. Disini banyak pengalaman tentang jilbab juga, karena airlines ini milik Eropa (Iceland), jadi ga semua orang familiar dengan jilbab dan Islam. Bahkan ada seorang pilot yang mengaku atheis banyak bertanya soal Islam ke saya. Jadi bikin saya terdorong untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi kaaaan🙂 *hikmah berjilbab*

Sekarang ini saya udah ga jadi pramugari lagi. Saya lulus kuliah tahun lalu, kemudian menikah, dan bekerja di kantor. Alhamdulillah jalan hidup saya terasa lebih bermakna sejak memutuskan memakai jilbab. Rasanya, rencana (keinginan-keinginan) hidup saya bukan hanya dikabulkan oleh Allah SWT, tapi juga diridhai olehNya…aamiin allahumma aamiin .

Semoga bermanfaat.


written by
: Ratna Wulandari 

11 thoughts on “Hidayah yang Saya Pegang Sampai Mati

  1. mia mengatakan:

    asalamualaikum, maaf kalo pertanyaan nya salah fokus. hehe
    saya mau tanya, kalau mau daftar jd pramugari di saudi airlines caranya gimana ya?

  2. mahaditya mengatakan:

    wawwwww….speechless..makasih udah ngenalin saya ke dunia hijab,ternyata inspirasi saya datang dari orang yang tepat…nice to know you mbak..

  3. liza mengatakan:

    gud bolg to read…inspiring of womrn behind hijab…keputusan hidup yg tdk akan merugikan…touching.

  4. Lisna mengatakan:

    Very inspiring mba. Thanks for sharing.😀

  5. anggi mengatakan:

    Hai Ratna..this stories brought me into tears😥
    Nice post🙂

  6. Nice sharing Ratna, salam kenal yaa.. Saya x-sv juga, thn 2002, tp 2006 saya resign due to married🙂. Tulisannya bagus banget, smg bermanfaat untuk kita semua yaa..

    • ratnakrasivaya mengatakan:

      hai ikaaa! seneng banget ketemu teman ex-SV! ^_^ I remember u when i c ur pic, klo nama suka lupa yah hahahaha! Saya dulu angk 2001, resignnya thn 2006 juga hehehehe. aamiin, mdh2an bisa bermanfaat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: