Ketukan Pintu Hati dari Allah

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Sejak kecil, aku disekolahkan di sekolah swasta Islam yang mewajibkan  siswi-siswinya untuk mengenakan jilbab. Hingga suatu hari aku lulus SMP dan diterima di sebuah SMA Negeri favorit di Tangerang, awalnya Ayahku melarang aku masuk sekolah negeri dengan alasan karena itu bukan sekolah swasta Islam dan Ayah khawatir aku akan mengenakan seragam dan rok pendek. Tapi aku meyakinkan Ayah agar aku tetap bisa masuk SMA negeri tersebut hingga akhirnya kami membuat kesepakatan, bahwa aku akan masuk Sekolah Negeri asalkan mau memakai seragam dan rok panjang serta kerudung setiap harinya disekolah.

Walaupun dari kecil sampai SMA aku sudah terbiasa berkerudung di sekolah, namun dalam kesehariannya, aku masih tergoda oleh lingkungan pergaulanku . Terkadang kalo aku pergi les atau jalan-jalan ke Mall dengan kawan-kawan sebayaku, aku tidak memakai jilbab namun hanya pakaianku saja yang tertutup rapi (aku selalu memakai kaos lengan panjang dan celana jeans panjang). Dan terkadang aku memakai jilbab setiap kali ada acara kumpulan keluarga besar Ayah di Jakarta. Jadi, disini jilbabku hanya sekedar formalitas tas keinginan Ayahku, bukan keinginan dari lubuk hatiku sendiri. Sampai akhirnya di tahun 2006 aku lulus SMA, dan diterima disebuah Universitas Negeri di Banten melalui jalur SPMB.

Aku sangat bangga dan bersyukur karena bisa lolos terpilih menjadi mahasiswa pilihan dari ribuan pesaing lainnya se-Indonesia. Tiga bulan pertama aku menjalani aktivitas sebagai mahasiswi dikampus,  tetap saja aku masih plin-plan dalam berhijab. Kadang hari ini kekampus dengan pakaian muslim, tapi esok harinya aku memakai jeans ketat dan kemeja ketat dengan rambut  panjang yang terurai tanpa kerudung. Ayahku tau akan hal ini, namun ia tidak memaksa. Hanya saja Ayah membelikan aku banyak buku tentang “Kewajiban Seorang Wanita Untuk Berhijab”.

Disaat itu aku mulai memperbaiki shalatku yang “bolong-bolong” serta sedikit demi sedikit aku belajar untuk memakai jilbab setiap harinya ke kampus. Tragedi itu Menimpaku.. Hingga pada suatu hari, aku mengalami kecelakaan dikampusku sendiri. Saat itu dimalam hari, aku hendak menjemput teman kuliahku yang kebetulan  sedang kuliah malam. Sekitar jam 7 ba’da isya, aku pergi menuju gedung perkuliahan. Namun tiba-tiba didalam gedung terdengar suara gemuruh runtuhan dari lantai atas, akupun lari keluar menuju pintu depan. Tidak diduga, ternyata asal suara gemuruh itu berasal dari pintu depan. Tepat didepan teras gedung, Ornamen Canopy dari lantai 4 runtuh menimpa tubuhku. Alhasil aku menjadi korban, Alhamdulillah pada saat itu juga aku cepat ditolong oleh para mahasiswa dan dilarikan ke RS setempat. Aku mengalami luka parah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun, kaki kananku memerlukan penanganan yang cukup serius. Kakiku harus dipasang alat penyanggah besi yang dinamakan “pen”. Tujuh bulan lamanya aku berbaring diatas kasur tanpa bisa berjalan sedikitpun dan akhirnya Dokter memvonis kaki kananku ini harus diamputasi. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Berkali-kali kusebut  Nama’ MU.

Sungguh aku tidak percaya bahwa aku akan menjadi seorang yang cacat. Namun berkat kebesaran hati orangtuaku yang selalu menasehatiku bahwa ini semua adalah ketentuan dari Allah dan aku harus bisa menerima Kehendak’NYA. Akhirnya aku merelakan kaki kananku ini untuk diamputasi. Alhamdulillah berkat  kecanggihan teknolgi jaman sekarang, aku bisa berjalan lagi layaknya orang normal dengan bantuan alat kaki palsu (protesa) yang dibeli dari Jerman. Semua biaya ditanggung oleh kampus dan aku dibebaskan dari biaya kuliah hingga aku lulus nanti.

Setahun kemudian pasca tragedi itu, aku bangkit dan semangat untuk kuliah lagi. Walaupun dengan kondisi yang berbeda dari sebelumnya, namun aku selalu berusaha untuk bisa menjalani setiap kegiatannya dengan baik. Syukur Alhamdulillah atas kebesaran Illahi, aku menjadi aktifis dikampus. Banyak dosen-dosen yang tidak mengetahui kondisiku, dan aku lebih suka diperlakukan biasa seperti teman-teman lainnya. Tahun 2008, hatiku terketuk untuk memakai hijab. Dan kali ini aku benar-benar serius  karna ada sesuatu yang memanggil-manggilku untuk menyentuh semua bahan kerudung yang ada dirumah. Setiap tengah malam aku terbangun dan selalu tertuju pada lemari pakaianku. Kubuka lemari itu, dan kuambil beberapa helai kerudung. Kupakai satu persatu. Entah mengapa aku merasa jiwaku lebih tenang dengan sehelai kain ini, dan aku merasa seperti menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Bahwa inilah aku yang lebih pantas untuk dipandang, apabila aku mengenakan hijab.

Semua teman-teman dikampusku merasa terkejut dengan perubahanku ini, mungkin karena sebelumnya aku sudah terbiasa menutup aurat, aku merasa nyaman dan biasa saja dengan penampilan ku sekarang ini, namun banyak yang berkomentar aku lebih cantik dengan berhijab bahkan aku sering disebut mirip dengan gadis arab dengan hijab ini. Alhamdulillah dengan hijab hati dan jiwaku menjadi lebih tenang. Allah memiliki caranya sendiri untuk mengetuk hati setiap umatnya. Alhamdulillah meskipun awalnya aku mengalami ujian yang berat dalam hidup, tapi aku bersyukur karena telah menjadi hamba pilihan’NYA untuk selalu beriman dan bertaqwa kepada’NYA. Dengan sedikit bekal ilmu tentang cara memakai hijab yang aku miliki saat ini, banyak orang-orang terdekat yang minta diajarkan untu memakai berbagai macam gaya hijab, yang penting tetap syar’i🙂

Ya Allah, semoga Engkau selalu melindungiku dan memudahkan jalan kehidupanku dengan segala keterbatasan yang ada pada diriku ini…
Ya Allah, Sungguh Engkau Maha Sempurna dan segala kekurangan itu hanyalah milik kami…
Ya Allah, Yang Maha Besar,tidak ada sesuatu yang tidak mungkin Bagi’Mu jika Engkau berkehendak, maka tunjukanlah kami jalan lurusmu dan bahagiakanlah kami didunia dan akhirat….

written by: Esya Bachri

4 thoughts on “Ketukan Pintu Hati dari Allah

  1. Esya Bachri mengatakan:

    To Dian: ia sama2,, makasi ya udah dibaca🙂
    tp,, ini Dian mana yah ?? hihiiiii ^^v

  2. Esya Bachri mengatakan:

    Terimakasih Ratna,, semua yang ada pada kita hanyalah “titipan” dari Allah SWT..Semoga Allah selalu melindungi dalam setiap gerak gerik langkah kita🙂

  3. ratna wulandari mengatakan:

    Nice story, Esya🙂 Salut dengan ketabahannya ketika tertimpa musibah. Jadi makin sadar kalo sgala sesuatu sebenernya hanyalah titipan Allah SWT, termasuk anggota badan kita. Smoga kelak kita bisa mempertanggungjawabkan dengan baik sgala titipan Allah SWT tsb…aamiin🙂

  4. dian mengatakan:

    esa salut denger serita nya, uda lama yah kita ngak ngobrol tau tau ada cerita dari km, terharu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: