Teringat Kultum Ayah

Assalammualaikum Wr Wb

Alhamdulillah, pengalaman saya dalam memulai memakai jilbab secara umum tidak begitu mengalami kesulitan, namun, dalam proses menuju berhijab tersebut, saya mengakui banyak pertimbangan-pertimbangan yang muncul dari dalam diri saya sendiri.

Saya lahir ditengah-tengah keluarga yang dekat dengan kehidupan suasana agamis dan seni. Lingkungan tempat tinggal kakek dan nenek saya dikenal dengan kampung pesantren, sehingga setiap hari, setiap waktu sering terdengar suara santri mengaji, bersalawat, memuji-muji asma Allah SWT dan kegiatan agama lainnya. Saat itu juga, keluarga saya yang perempuan belum semua memakai hijab. Rata-rata penduduk yang tinggal di daerah tersebut baru akan memakai jilbab apabila sudah menunaikan ibadah Haji.

Hijab/jilbab tidak asing bagi saya. Sejak saya masuk ke Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA) pada umur tiga (3) tahun, saya telah menggunakan hijab, namun hanya pada saat di sekolah saja saya memakai jilbab. Saat itu, kegiatan saya sebagian besar saya habiskan di TKA karena alhamdulillah saya di percaya untuk mewakili TKA/TPA mengikuti berbagai lomba, khususnya lomba menyanyi/qasidah, sehingga secara otomatis saya harus memakai jilbab disetiap kegiatan tersebut.

Tahun 2004, ibu saya pergi menunaikan ibadah haji dan beliaupun mengaku nyaman memakai hijab selama di tanah suci kemudian keterusan sampai sekarang. Begitu ibu saya memakai hijab, ayah saya sangat senang dan beliau mengucapkan harapannya kepada saya, sebagai anak perempuan satu-satunya, untuk memakai hijab seperti yang ibu saya lakukan. Jawaban saya.. “nanti aja yah pa, kalo puput pergi ke Makkah atau udah nikah”.

Tahun 2006, Allah mengundang saya sekeluarga untuk menunaikan ibadah umroh. Saat itu, entah mengapa saya merasa sangat nyaman memakai hijab, rasanya adem banget!, apalagi komentar keluarga dan keluarga satu travel bilang kalo pakai jilbab jadi keliatan tambah cantik.

Sepulang dari umroh, ibu saya menyarankan saya untuk terus memakai jilbab. Tapi karena saat itu saya yang masih duduk di bangku SMA sedang semangat-semangatnya nge-band dengan teman-teman, jadi saya urungkan niat untuk memakai hijab.. saya pikir..”lah, bagemana ceritanya ngeband pake jilbab..”.

Saya waktu itu berpendapat bahwa jilbab akan membatasi gerak-gerik saya dan akan susah berkembang nantinya, apalagi saat itu saya punya pacar.. saya berpendapat.. “ kalo pake jilbab, ga bisa pacaran doooongg atau susah dapet pacar” . Yak, karena itulah saya mengurungkan niat memakai jilbab dan akan memikirkannya lagi setelah saya menikah.

Suatu ketika, setelah shalat subuh berjamaah dengan orang tua dan adik-adik saya, ayah saya memberikan semacam kultum (kuliah tujuh menit) mengenai kasih sayang orang tua kepada anak dan sebaliknya. Hal yang saya tangkap dan terus teringat oleh saya dari kultum tersebut adalah “anak adalah tanggung jawab orang tua. Semua bayi yang lahir di dunia ini dalam keadaan muslim. Yang menjadikan anak tersebut menjadi seoran nasrani, yahudi dan sebagainya adalah orang tuanya. Otomatis orang tuanya yang nanti akan dipertanyakan pertanggung jawabannya kepada Allah.. begitu juga dengan orang tua muslim, sudahkah mereka merawat dan membimbing anak-anaknya dengan baik sesuai dengan syariah agama? “. dari situlah saya berfikir bahwa jangan sampai orang tua saya dianggap tidak bertanggung jawab gara-gara saya belum memakai jilbab, padahal jilbab merupakan kewajiban bagi seorang wanita muslim.

Kultum tersebut terus terngiang-ngiang di telinga saya sampai suatu saat saya membaca sebuah novel yang inti dari salah satu bab nya adalah, begitu bahagia dan berharganya wanita yang menutup seluruh auratnya dan kecantikannya tersebut hanya ia tunjukkan kepada suaminya yang telah menjadi halal baginya. Karena dua hal tersebut keinginan saya memuncah untuk memakai hijab.

Saya mulai mencari dukungan dari lingkungan sekitar saya. Hasilnya ? keluarga saya tentu saja sangat setuju dengan keinginan saya memakai hijab walaupun ibu saya terus mewanti-wanti “kamu yakin ga? Kalo udah pakai jilbab, ga boleh lepas pake lepas pake loh, komitmennya sama Allah” teman-teman dekat saya pun mensupport saya memakai hijab, namun yang terakhir saya tanya adalah teman dekat pria saya waktu itu, ia menolak saya jika saya memakai hijab..”nanti-nanti aja sih…” begitu katanya. Jujur saya cukup kaget dan marah (di dalam hati) dengan pendapat terakhir tersebut.

Keinginan untuk segera memakai hijab saya urung karena masih bimbang, sehingga suatu saat saya seolah mendapat petunjuk –saya tidak tahu ini hidayah atau bukan-. Setelah saya sholat malam dan tidur, saya mendapat mimpi mengenai pertanggung jawaban orang tua saya di akhirat kelak. Jujur saya takut, dan ketakutan saya tersebut terus berputar di otak saya sampai saya berhenti disatu titik. Saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa saya harus menunda-nunda memakai hijab? Menutup aurat merupakan perintah Allah, kita tidak tau sampai kapan kita akan hidup di dunia, bagaimana kalau kita meninggal dalam keadaan belum menunaikan perintah Allah untuk menutup aurat? rezeki, jodoh dan maut semua Allah yang mengatur, jadi kenapa harus ragu?

Sejak saat itu saya yakin bahwa saya harus memakai jilbab, karena Allah. Bismillahirrahmanirrahim pada tahun 2009, untuk pertama kalinya saya keluar rumah dengan memakai jilbab saya. Ibu saya yang biasanya marah-marah karena saya paling lama keluar kamar kalau saya mau pergi, saat itu menangis ketika melihat saya keluar dengan jilbab saya. Begitu juga dengan teman-teman saya di kampus, mereka shock melihat saya memakai jilbab heheu.. yah, untuk perubahan ke arah yang lebih baik, kenapa tidak?

Alhamdulillah setelah saya memakai jilbab, ada saja rezeki yang diberikan oleh Allah. Diawali dengan hobi saya menulis blog, saya hadir kesebuah acara buka puasa bersama di salah satu food court di Jakarta. Saya bertemu dengan teman-teman baru dan kemudian sama-sama membentuk dan membangun sebuah komunitas, yaitu Hijabers Community, dan saya merasakan manfaat dan berkah luar biasa semenjak saya memakai hijab.. alhamdulillah, tapi tentu saja hal tersebut tidak semulus yang dibayangkan.. tetap saja ada batu sandungan sampai dengan saat ini saya memakai jilbab. Intinya sih harus terus bersabar dan mengambil dari pada ilmu padi, semakin merunduk semakin berisi dan terus bersyukur kepada Allah..insya Allah apa-apa yang kita inginkan, didekatkan oleh Allah.

Semoga cerita ini dapat memberikan suatu inspirasi bagi teman-teman yang membaca khususnya bagi teman-teman yang ingin berhijab. Banyak orang berpendapat bahwa yang terpenting sebelum menjilbabkan fisik adalah menjilbabkan hati terlebih dahulu. Pertanyannya.. bagaimana kita tahu hati kita sudah siap? Sampai kapan kita akan menunggu hati kita siap untuk berjilbab? dan apakah kita tahu berapa lama kontrak hidup kita di dunia? Hanya Allah yang tahu.. wassalammualaikum wr.wb.

written by: Puput Utami

5 thoughts on “Teringat Kultum Ayah

  1. esa bachri mengatakan:

    SUBHANALLAH ^_^

  2. Summer mengatakan:

    aku udah mulai berhijab

  3. Summer mengatakan:

    sekarang aku \, juga udah berhijab put..
    memang sih baru, tapi Insya Allah untuk selamanya..

  4. Putri Anggraeni mengatakan:

    Setiap orang pasti punya cerita masing-masing ya dalam perjalanannya pake hijab. mamaku juga dulu nangis waktu tau aku mau pake hijab. Alhamdulilah semuanya mendukung🙂

  5. Risha mengatakan:

    Curhat:
    Sama kak Put, Alhamdulillah skr aq udah berhijab. baru awal januari kemaren.
    Awalnya Godaannya berat, sampe frustasi 2minggu mikirin mau berhijab..
    Takut keliatan Gak modis n’ cantik lah,
    Tapi Alhamdulillah stelah BerHijab Aq merasa lebih PD, Lebih bsa berEkspresi n’ lebih di hargai orang (kata orang jawa: diSungkani) hehe..
    n’ skr Solusiku Buat tampil modis Ya Browsing style2 Hijabers Community..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: