“Terpenjara” Dalam Hijab

Assalamualaikum ukhti yang senantiasa dirahmati Allah…

Cerita tentang proses berhijab yang saya alami mungkin tidaklah terlalu istimewa, namun saya tetap ingin berbagi dengan ukhti semua. Saya berjilbab sejak kelas 1 SMP yang berarti sejak tahun 2000. Alhamdulillah keinginan berjilbab itu berasal dari diri sendiri bukan paksaan orang tua atau siapapun.

Bermula dari sebuah pesantren kilat yang saya ikuti saat kelas 5, disini kami diharuskan berhijab selama kegiatan. Saat penutupan kegiatan ini, ada pengumuman untuk murid terbaik di tingkat SD dan SMP. Dan Alhamdulillah saya terpilih menjadi murid wanita terbaik tingkat SD saat itu, dan saya pun diberikan hadiah penghargaan yang diberikan oleh ketua panitia akhwat. Di akhir penutupan,saat itu beliau  berpesan kepada kami para muslimah cilik, “Nanti kalo ketemu teteh pas dijalan harus berjilbab ya, kalo ga nanti ga bisa ikutan pesantren kilat taun depan lho!”

Kalau saya mengingat hal itu, rasanya hanya saya yang menganggap kata-katanya dengan serius. Hal ini mungkin dikarenakan ambisi saya untuk menjadi yang terbaik kembali di pesantren kilat pada tahun berikutnya. Maklum saya senang mendapat hadiahnya.😀

Hari-hari setelahnya, setiap saya pergi keluar rumah pasti memakai jilbab. Sampai seringkali ibu bertanya alasannya, saat itu saya hanya bisa menjawab “takut dijalan ketemu teh Rina (teteh panitia pesantren kilat), nanti malu kalo aku ga pake jilbab”. Sampai akhirnya karena kebiasaan tersebut, saya meminta izin kepada ayah dan ibu untuk berjilbab ke sekolah (saat itu saya sudah menginjak kelas 6 SD). Namun saat itu ayah dan ibu menolak, dengan alasan “tanggung tinggal setahun lagi, sayang seragamnya!nanti aja pas masuk SMP”. Dan saat itu saya hanya bisa menerima dan bersabar, sampai akhirnya ketika masuk SMP saya menagih janji kedua orang tua saya. Keinginan saat itu begitu kuat karena saya merasa lebih pantas berjilbab daripada tidak. Dan orang tua saya hanya berpesan, “kalau sudah berjilbab, berarti shalatnya jangan bolong-bolong lagi ya”.

Alhamdulillah saya masih istiqamah berhijab sampai sekarang. Saat SD saya memakai jilbab karena takut dan malu bertemu dengan seseorang saat tidak berjilbab. Saat SMP saya mulai berpikir berjilbab itu adalah karena saya pantas memakainya! Saya merasa cantik setelah berjilbab. Dan saat SMA saya berpikir “Alhamdulillah ternyata saya sudah melaksanakan KEWAJIBAN yang diperintahkan ALLAH SWT.”

Walaupun terkadang godaan syetan itu datang sehingga beberapa kali saya tidak memakai jilbab keluar rumah, namun Alhamdulillah saya tidak pernah melepas mahkota saya itu dalam jangka waktu yang lama atau secara permanen. Dan kini saya berpikir, “Alhamdulillah HIJAB telah memenjarakan dan melindungi ku dari segala godaan untuk memamerkan bagian tubuh yang tidak diperbolehkan selama ini”

Bahkan kini sering saya MALU, sudah 11 tahun berhijab masih seperti ini.. Astagfirullah…

Karenanya, saya harus bersyukur telah diberikan hidayah berhijab sejak dini. Dan sekarang saya hanya tinggal beristiqomah dan melakukan perintah-Nya yang lain. Serta mengoptimalkan diri dalam usaha agar semakin dekat dengan-Nya.. Amiiin..

Oleh karena itu, pesanku untuk saudari-saudariku yang belum mantap untuk berjilbab.. Mantapkanlah dan Segerakanlah! Agar diri kita makin disayang Allah.. Dan jangan sampai ketika kita dipanggil oleh-Nya berada dalam kondisi tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya…Naudzubillah…

Wassalamualaikum

written by: Santi Trilina

One thought on ““Terpenjara” Dalam Hijab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: