Hidayah Setelah 6 Tahun Berhijab

Assalamualaikum Wr. Wb

Terima kasih buat Kak Ola (@olanatics) yang punya ide teramat kreatif bikin blog khusus buat sharing masalah hijab.

Saya Nurul Nafi Ariyani, memutuskan untuk menutup aurat sejak kelas 2 SMP, jadi sudah sekitar 6 tahun lebih saya memutuskan untuk berhijab. Keluarga saya cukup religius, kedua orang tua termasuk orang yang beribadah dengan sangat baik, sedangkan kakak saya adalah contoh anak idaman keluarga (rajin shalat, pintar mengaji, dll). Kami dua bersaudara dan terpaut 7 tahun. Saya sering sekali merasa keluarga saya terlalu mendikte. Dari kecil saya diharuskan mengaji setiap sore hari dan mengulang di rumah, diharuskan shalat 5 waktu, dan rutinitas lain yang membuat anak kecil seperti saya merasa bosan.

Hingga saat SMP, kakak saya menikah di usia sekitar 21 tahun. Kebetulan sekali, suami kakak saya adalah orang yang juga sangat taat agama, sehingga semakin ketatlah pengawasan terhadap saya. Momen tersebut mendorong saya untuk berusaha menjadi lebih baik, saya yakin saya ingin menutup aurat dengan berjilbab meskipun shalat masih sangat sering bolong. Saya juga tidak mau menjadi satu-satunya anggota keluarga yang berbeda dari segi fisik (kakak dan ibu memakai hijab).

Dengan banyak pertimbangan, saya mulai memakai hijab saat kenaikan ke kelas 8 atau 2 SMP. Saya memiliki beberapa motivasi, salah satunya adalah untuk menghindari panas, karena pihak sekolah juga tidak mewajibkan pemakaian jilbab atau hijab untuk siswi muslim. Panas mungkin salah satu motivasi terkuat saya waktu itu, selain itu saya menggunakan hijab sebagai identitas saya yang baru karena waktu SD saya terbilang tomboy dan boyish sekali. Remaja putri berjilbab adalah identitas saya yang baru dan saya merasa senang semua orang tidak percaya bahwa dulu saya adalah seorang “tomboy” .

Saat pertama kali memakai hijab, saya merasa risih dan sedikit gerah, mungkin karena belum dapat hidayah jadi hati masih setengah-setengah. Namun, saya kembali rutin mengaji di rumah, keluarga saya cukup senang melihatnya.

Menginjak Bangku SMA

Saya masuk SMA yang mengharuskan siswi muslim berjilbab. Meskipun sudah dua tahun saya berhijab, tidak ada banyak perubahan, shalat masih sering bolong dan mengaji semakin lama semakin jarang, bahkan hampir tidak pernah. Sebagai anak SMA, saya memang aktif di sekolah, jadi sering pulang malam dan langsung tidur. Sampai menginjak tahun kelima pun, kadar keimanan saya masih sama. Hanya menggunakan hijab saat pergi sekolah, bepergian jauh atau menghadiri event tertentu, tapi selalu melepas hijab saat main di sekitar rumah. Sekalipun begitu, tak jarang saya menggunakan pakaian yang tidak semestinya dipadukan dengan hijab, misalnya atasan atau legging yang ketat. Saya masih sangat naïf memulai berhijab dalam arti yang sesungguhnya.

Masa Kuliah

Tahun keenam dalam kalender hijab saya. Saya yang berasal dari Surabaya memutuskan untuk melanjutkan studi di Jakarta, masih merasa ingin memberontak aturan keluarga. Saya berpikir dengan kuliah di luar kota bisa membuat saya lebih bebas memilih gaya kehidupan saya sendiri, tapi ternyata ideologi saya hancur lebur. Setiap telepon ke rumah, mama selalu berpesan agar saya menjaga nama baik diri sendiri dan keluarga, jangan lupa shalat lima waktu dan semakin hati-hati menjaga aurat. Beliau sering menangis saat saya telepon. Disaat itulah saya luluh, ambisi untuk hidup bebas yang selama ini saya idam-idamkan ternyata tidak bisa mengalahkan kenyataan kalau jalan hidup saya ya menutup aurat. Sedikit demi sedikit saya mulai meyakinkan hati, saya ingin istiqomah menutup aurat di depan siapa pun, sekalipun calon suami saya nanti (hehe). Saya mulai gemar membeli pakaian yang longgar dan tidak ketat seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad;

“Dua golongan termasuk ahli neraka yang belum aku lihat yaitu:
Kaum yang bersama mereka beberapa cambuk seperti ekornya sapi, mereka mencambuki manusia dengan cambuk tersebut (perbudakan). Dan wanita-wanita yang berpakaian tapi seperti tidak berpakaian (memakai pakaian, tetapi tipis atau ketat) yang menyimpangkan (memberikan pengaruh buruk kepada orang lain). Kepala mereka seperti punuk unta yang condong (rambutnya dibuat berbagai macam model), mereka tidak masuk surga dan tidak mencium baunya surga dan sesungguhnya baunya surga niscaya dijumpai dari perjalanan sekian.”

Saya jadi paham kenapa ada kata-kata hidayah. Saya sendiri baru mendapat hidayah setelah 6 tahun berhijab. Dan saya jadi mengerti bahwa hidayah itu datang langsung dari Allah SWT dan tidak bisa dipaksakan. Sekarang, saya merasa sangat bangga menjadi wanita berhijab, hijab saat ini juga bukan hijab monoton yang langsung pakai dan tidak berbentuk. Semua wanita bisa dengan mudah mengkreasikan hijab sesuai keinginan.

Bagi wanita muslimah yang ada di luar sana, mencoba segala sesuatu itu tidak ada salahnya, jangan menunggu sampai hidayah datang tetapi coba mulai dari sekarang. Hitung-hitung juga mengurangi kadar dosa yang akan kita perbuat nantinya, juga jangan berpikir bahwa kita harus menjilbabi hati sebelum memakai jilbab secara fisik, kapan kita akan sadar kalau kita tidak pernah ingin memulai? Sekian sharing saya, semoga bisa memberi inspirasi.

written by: Nurul Nafi Ariyani

2 thoughts on “Hidayah Setelah 6 Tahun Berhijab

  1. Shalihah SHOP mengatakan:

    wahh..menginspirasi lhoo artikelnya🙂

  2. Musa mengatakan:

    Inspiratif,
    semoga istiqomah menjadi hijabers y

    #Smuga dapet jodoh yg baik jg, hehe v^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: