Hijab = Identitas Muslimah

Salam, perkenalkan nama saya, Betalitha Aliva. Saya seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Izinkan saya berbagi keajaiban melalui cerita hijab saya, semoga menginspirasi.🙂

Di tahun 2006…

Keputusan saya berhijab mungkin sangat terlambat, alhamdulillah di tahun pertama kuliah saya akhirnya mendapat hidayah untuk memakai hijab. Itupun setelah saya mengikuti semacam kegiatan agama dan dibimbing oleh kakak mentor secara cukup intens. Memang untuk membuat sebuah perubahan perlu niat dan tekad yang bulat serta bimbingan dari yang sudah berpengalaman. Insya Allah niat kita tersebut akan terlaksana. Kegiatan mentoring ini sebenarnya diharuskan atau semacam kewajiban untuk menambah nilai mata kuliah pengantar ilmu agama. Nah, bersama teman-teman putri lain saya mengikuti mentoring seminggu sekali meskipun jumlahnya semakin lama semakin menyusut tapi saya berusaha bertahan karena saya seperti kehausan, saya begitu ingin mendalami ilmu agama. Bahkan hari itu menjadi penyemangat tersendiri setiap minggunya. Setiap pertemuan kami membahas tema-tema yang menarik yang diberikan mentor-mentor kami, Teh Siti dan Teh Indri, berseling minggu berikutnya khusus tanya jawab mengenai apa saja bahkan bisa dibilang seperti sesi curhat. Begitu seterusnya. Saya pikir banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari forum kecil seperti ini tanpa harus dipaksa oleh sebuah kewajiban mata kuliah. Sungguh sayang teman-teman yang melewatkan kesempatan ini. 

Sebelumnya, kehidupan agama saya biasa-biasa saja, shalat masih bolong-bolong, mengaji sangat jarang, yah pokoknya sekedarnya saja. Memang faktor lingkungan juga mempengaruhi, waktu SMA saya mulai kritis terhadap diri saya sendiri. Saya mulai berpikir tentang keberadaan diri saya, lingkungan, dan Tuhan. Rasanya semua menjadi pertanyaan bagi saya karena masa-masa itulah masa pencarian jati diri. Masih labil. Baru pada tahun ketiga SMA, dimana kita ‘seperti dipaksa’ mendekatkan diri kepada yang di Atas menjelang ujian nasional dan SPMB, baru ibadah saya ditingkatkan, dari ibadah sunnah, mengaji, sedekah dan sebagainya. Syukur ujian nasional dapat terlewati namun saya gagal menembus SPMB, akhirnya dengan berat hati saya melanjutkan pendidikan saya di diploma bukan sarjana seperti teman-teman saya yang lain. Bukan maksud mengecilkan arti diploma, namun saya seperti belum menerima. Batin saya memberontak. Saya merasa berbeda. Saya sangat kecewa terhadap diri saya sendiri. Mungkin saat itulah titik baliknya. Masih kurang hubungan saya dengan yang di Atas.

Pada bulan suci Ramadhan…

Puncaknya pada bulan Ramadhan. Waktu itu di kampus saya diadakan semacam sanlat, pesantren kilat, oleh DKM kampus. Kegiatan sanlat yang berlangsung 2 hari 1 malam saya ikuti meskipun teman-teman banyak yang tidak tertarik, entah ada kekuatan apa yang mendorong saya sangat ingin mengikuti kegiatan ini. Sampai-sampai Teh Siti meminta izin secara pribadi kepada ibu saya agar dapat diperbolehkan menginap di kampus semalam, dan alhamdulillah diizinkan. Kebetulan hari itu saya tidak membawa hijab. Jadilah selama sanlat saya dipinjamkan hijab oleh mentor saya itu, pertama pakai mereka bilang saya terlihat berbeda.. cantik. Tentu saja karena saya perempuan, hehe. Kalau saya melepas kerudung kelihatan sekali seperti Chinese. Dulu saja sering saya dikira non muslim karena mata saya sipit. Memang benar hijab itu identitas muslimah. Selama sanlat terutama saat muhasabah, disitulah saya seperti disadarkan akan dosa-dosa saya yang begitu banyak. Perilaku saya terhadap orang tua, keluarga, lingkungan. Air mata serasa mengalir deras tak henti berevaluasi diri. Intinya, 2 hari 1 malam itu seakan merubah saya. Mentor yang lain, Teh Indri malah berpesan, “besok-besok dipakai lagi ya, kerudungnya..” pernyataan itu seperti mencubit hati saya. Sebenarnya sudah lama pernyataan bernada sama sering terlontar dari orang tua, khususnya ayah saya, “kapan mau pakai kerudung?” saya hanya bisa tersenyum menjawab, “nanti, Pah”. Seberapa lamakah nanti itu?

Dan pada akhirnya di hari lebaran, saya memutuskan untuk belajar menutup aurat dengan modal bismillah.. lillahi ta’ala. Saya percaya dan saya yakin pakaian takwa ini tidak akan menyulitkan hamba-Nya, justru ini perintah-Nya, segala sesuatu datang dari-Nya. Saya akan merasa nyaman dan terlindungi, Allah melindungi saya. Begitulah. Walaupun sebagai hamba saya masih merasa kurang tapi dengan pakaian ini justru akan membuat saya lebih menjaga diri. Bukan karena terpaksa, bukan pula membatasi. Learning by doing. Tidak menunggu-nunggu batin siap terlebih dulu justru dimulai dari lahir lah maka semua hal yang baik pun akan mengikuti. Insya Allah. Bahkan hidup saya menjadi lebih berwarna dengan warna-warni hijab yang sekarang kian beragam dan menarik. Saya seperti perempuan lain yang juga ingin merias diri dengan keindahan. Setiap harinya menjadi penyemangat tersendiri dalam memilih dan memadupadankan busana muslimah. Dan sebisa mungkin tidak menyalahi aturan. Allah justru ingin kita terlihat cantik.

Ternyata masa-masa kuliah saya di D3 lah yang membawa saya dekat dengan Allah padahal sebelumnya saya memandang sebelah mata. Inilah hikmah di balik suatu peristiwa. Subhanallah.. semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi. Selamat berhijab saudariku. Allah memberkahi. Salam.

written by: Betalitha Aliva

One thought on “Hijab = Identitas Muslimah

  1. Riandra Dwi Widacahya mengatakan:

    Super Sekali Bet…, 4 jempol buat kamu dan semangatmu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: