Membalas Kasih Sayang ALLAH

Assalammualaikum wr. wb.,

Nama saya Dini. Ini adalah cerita saya tentang bagaimana saya memutuskan untuk berhijab.

Tidak dipungkiri bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap seseorang, begitu juga dengan saya. Pada tahun 2004, saya masuk kuliah di Universitas Yarsi, sebuah Universitas berbasis Islam yang mengharuskan setiap mahasiswanya untuk berpakaian muslim/muslimah. Khusus untuk perempuan diwajibkan untuk menggunakan hijab. Itulah awal mula saya terbiasa menggunakan hijab. Pada saat itu, saya menggunakan hijab hanya terbatas saat saya ke kampus, kuliah atau segala hal yang berhubungan dengan kampus. Di luar itu saya tidak memakai hijab, memakai hijab hanyalah kewajiban kampus saja. Ibu saya pernah bertanya dan mengingatkan, “Kok dilepas hijabnya? Dini kan sudah pernah umroh. Lagipula, Dini lebih cantik pakai hijab”. Sampai saya lulus kuliah dan memasuki masa kepaniteraan klinik/ko-asistensi (yaitu pendidikan lanjutan untuk mahasiswa kedokteran yang ingin mencapai gelar dokter umum) saya belum mantap juga untuk memakai hijab. 

Saat saya memasuki masa kepaniteraan klinik/ko-asistensi atau disingkat koas, saya benar-benar merasakan susahnya/kerasnya hidup menjadi seorang calon dokter. Pertama, saya koas di Cirebon sedangkan rumah saya di Jakarta. Saya belum pernah ke Cirebon dan saya tidak punya keluarga atau kenalan sama sekali disana kecuali teman-teman sesama koas. Kedua, menjadi seorang asisten dokter/dokter spesialis di rumah sakit itu sama sekali tidak mudah apalagi saat saya sedang bertugas di stase/bagian mayor (Anak, Kebidanan & Kandungan, Penyakit Dalam dan Bedah) dimana ada tugas jaganya sehingga jam kerjanya benar-benar 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak hanya itu, saya juga harus belajar, mengerjakan tugas tulis dan ujian. Belum lagi hubungan dengan orang-orang sekitar dokter/dokter spesialis, tenaga medis lainnya, pasien dan keluarganya, juga teman-teman sesama koas- yang seringkali tidak berjalan mulus. Ada saja hal-hal yang membuat salah paham bahkan berantem.

Seringkali saya buru-buru menelepon ibu saya untuk cerita, mencurahkan apa yang saya rasa atau bahkan untuk sekedar menangis ketika saya merasa putus asa, sedih atau ‘tidak kuat’ dalam menghadapi ‘dunia koas’ ini. Sampai suatu hari, ada satu perkataan ibu saya yang mengena, “Coba setiap selesai solat Dini ceritakan semua kepada ALLAH seperti Dini cerita ke Mama. Minta ALLAH untuk bantu Dini, menguatkan Dini dan memberikan yang terbaik untuk Dini. Cuma ALLAH Nak yang selalu ada dan yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk Dini”.

Sejak saat itu, setiap selesai solat, saya tidak hanya berdoa sekenanya tapi saya selalu meluangkan waktu untuk berlama-lama berkomunikasi dengan ALLAH, walau saya tidak sedang dalam kesulitan, dan kemudahan-kemudahan itu pun akhirnya saya rasakan.

Datangnya Hidayah

Ketika saya berhasil menyelesaikan seluruh stase/bagian kepaniteraan saya, hidayah memakai hijab tanpa dilepas-lepas lagi pun datang. Saya sebut hidayah karena memang kemantapan itu datang begitu saja secara tiba-tiba. Setiap hari kepikiran, “Pakai hijab ngga ya..” Sampai ibu saya bilang, “Dini kan memang sudah terbiasa pakai hijab. Sekarang dicoba, kalau dari rumah sudah pakai hijab di tengah jalan jangan dilepas sampai Dini pulang ke rumah.”

Akhirnya, pada bulan Maret 2011 saya mantap menggunakan hijab. Ya, Maret 2011. Masih bisa dihitung jari kan lamanya? Setelah membuat keputusan itu, yang saya rasakan hanyalah kemantapan. Tidak ada perasaan ragu, keinginan untuk buka hijab lagi, apalagi takut.

Membalas Kasih Sayang ALLAH

Saya merasa ALLAH sangat mengasihi dan menyayangi saya. Semua yang saya mau, semua yang saya minta, Dia beri. Semua doa saya Dia kabulkan dengan caraNya. Saya pikir, saya harus membalasnya dan cara untuk membalas kasih sayang ALLAH kepada saya adalah membuatNya senang dengan cara menuruti perintahNya dan salah satu perintah ALLAH terhadap muslimah adalah menutup auratnya. Insha ALLAH satu langkah besar dalam hidup saya ini membuat diri saya menjadi manusia yang lebih baik lagi dan menjadi hamba yang selalu bersyukur, beriman dan bertakwa kepada ALLAH.

Sebuah Kutipan

“Ketika kamu ‘mendatangi’ ALLAH jangan hanya sekedarnya, jangan hanya sekenanya, seperlunya dan jangan ‘datangi’ ALLAH hanya karena kamu sedang susah. Maksimalkan waktu dan kesempatan yang kamu punya untuk ALLAH karena ALLAH selalu memaksimalkan pemberianNya, ALLAH selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya. ALLAH itu selalu ada dan selalu dekat dengan hambaNya jika hambaNya selalu mengingatNya dan mendekatkan diri kepadaNya”

Wassalammualaikum wr. wb.

written by: Dini A. Puspitasari

3 thoughts on “Membalas Kasih Sayang ALLAH

  1. Hawa mengatakan:

    Alhamdulillah, saya juga sudah berhijab dan insyaAllah akan mengekalkan imej begini sehingga ke akhirnya.

  2. Tia mengatakan:

    Subhanallah.. Thanks for sharing.
    Semakin memantapkan niat saya untuk berhijab.

  3. wahab mengatakan:

    subhanallah, sungguh menyentuh sekali ceritanya.
    nice share.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: