Turning Point

Yup, I was a happy woman at that time.

Saya tidak pernah membayangkan untuk mengenakan kerudung atau jilbab atau hijab sebelumnya (selanjutnya saya gunakan istilah kerudung, karena sudah kebiasaan menyebutnya begitu). Sampai saya pernah berpikir, jika saya dikasih usia sampai dengan 63 tahun seperti usianya Nabi Muhammad SAW, at least setengah dari usia saya, saya bisa mengikuti ajaran Islam dengan baik dan benar. Itu artinya saya harus berkerudung paling tidak di usia 31 tahun, dengan catatan usia saya panjang. Tetapi apa yang terjadi saudara-saudara. Hidayah itu datang tiba-tiba, saya juga tidak tahu kenapa saya bisa berkerudung seperti sekarang ini.

Nah, entah kenapa di suatu pagi yang cerah tepatnya di hari Sabtu bulan Juni tahun 2007. Pada pagi hari itu, ibu saya mengajak saya untuk menemaninya berbelanja si ArionPlaza. Pergilah saya berdua ibu saya kesana. Ga dinyana, saya malah tertarik untuk membeli 6 baju muslim yang ada disitu yang motifnya sama dengan warna yang berbeda. Ga tau kenapa, semua baju muslim yang ada disana kelihatan bagus semuanya, dan entah kenapa juga saya berpikir untuk membeli baju muslim 6 saja, karena saya ingat di rumah, saya mempunyai 1 baju lebaran tahun lalu. Total 7 baju muslim.

Sesampainya dirumah, saya bilang ke ibu saya, “Mah, ini baju kan kudu pake kerudung yah?”. Keesokan harinya saya pergi ke PGC Cililitan untuk membeli kerudung, padahal uang sudah habis untuk membeli baju. Saya meminjam uang ibu saya waktu itu. Saya minta diajari cara memakai kerudung seperti yang dipakai oleh penjual tersebut. Saya kesana sudah memakai kerudung karena sekalian mau pergi ke pernikahan anaknya teman ibu saya.

Keesokan harinya saya berangkat ke kantor mengenakan kerudung. Saya bertanya kepada adik saya, “Di, bagus ga baju gw?” Dia bilang, “Bagus.” Terus, di halaman rumah ketemu bapak saya, ditanya, “Kak, kok pake kerudung?” Saya jawab dengan percaya diri, “Orang Islam bukan harusnya begini, Pak?”

Saya pergi ke kantor seperti biasa. Sesampainya di kantor, saya disalamin sama teman-teman. Saya bingung dan menangis waktu itu. Saya merasa aneh. Kayak saya habis menerima award apa gituh disalam-salamin.

Hari demi hari saya lalui sama si kerudung ini, dengan baju muslim tetap cuma 7 helai. Nunggu bulan depan, soalnya gaji bulan itu sudah habis buat beli baju. Sampai saya ngomong sama teman saya, “Jangan heran yah kalo baju gw ini-ini aja, soalnya baju muslim gw cuma 7”.

Tetapi setelah saya pikir-pikir, saya ingin punya 14 baju muslim aja ah, karena kalo saya malas mencuci dan menyetrika, saya masih punya baju cadangan untuk keesokan harinya dan juga bikin teman-teman saya ga main tebak-tebakan sama baju saya. *malas aja kalo udah ketebak hari Senin pakai baju merah, hari Selasa pakai baju biru *

Akhirnya baju muslim saya nyampe juga 14 helai, bahkan lebih. Alhamdulillah. Oh ya, semua baju-baju saya di masa lalu, saya berikan kepada saudara-saudara saya dan pengemis yang lewat. Kenapa begitu? Karena saya takut kebablasan mix and match-nya yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Percuma kalo pakai kerudung tetapi bajunya masih asal-asalan. Walaupun sekarang saya juga masih jauh dari sempurna, at least lekukan-lekukan itu sudah berkurang dan sudah menutup rambut, tangan dan kaki.

Padahal dulu saya sudah pasrah sama baju muslim jaman dulu, baju kurung udah paling hits deh. Tetapi Allah menunjukkan bahwa baju itu bisa bermodel apa saja asalkan menutup aurat dan tidak berlebihan. And I love becoming muslimah more and more each day.  And now, I feel truly happy inside and outside dan Insya Allah diberi jodoh yang terbaik juga inside and outside-nya. Amin.

Inilah salah satu ayat Al-Qur’an yang selalu membuat saya merasa bersalah banget kalo tidak mengenakan kerudung dan menutup aurat.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (An-Nur:31)

written by: Atika Prihanny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: