Istiqomah Untuk Meraih Cita-Cita

Nama saya Frida (27 thn), berasal dari salah satu kota kecil di Jawa Tengah yang terkenal dengan kreteknya. Saya mulai memakai hijab pada tahun 2007 yaitu beberapa waktu menjelang sidang skripsi saya.

Sebetulnya saya sudah lama ingin memakai hijab, apalagi sudah banyak pengajian yang menyatakan kewajiban muslimah untuk menutup aurotnya. Tapi, semangat saya masih naik turun dan masih menunda-nunda. Alasan saya antara lain “Mau hijabi dulu hatinya”, “Nanti susah cari kerja”, “Takut bosan, dan tidak bisa main sama teman dengan bebas” atau “Sayang baju lengan pendek masih banyak dan bagus tidak bisa dipakai lagi”.

Sampai suatu hari saya sedang jalan-jalan ke pasar bersama Ibu saya, dan dibelikan 4 hijab sesuai warna dan model kesukaan saya. Sesampai di rumah, saya sudah tidak sabar lagi untuk mencoba memakai hijab baru saya. Alhamdulliah keesokan harinya saya sudah memakai hijab pada saat saya berangkat ke kampus. Mungkin berbeda dengan beberapa ukhti kebanyakan yang memakai hijab setelah mendapat hidayah dari ceramah, buku, atau setelah sholat tahajud dan istikharoh.

Jujur saya akui, pertama kali saya memakai hijab karena antusias sesudah dibelikan hijab baru. Alhamdullilah setelah saya memakai hijab, timbul keinginan saya untuk lebih mendalami agama, saya menjadi tersugesti untuk bertutur kata lebih santun, lebih khusyuk dalam beribadah, dan menjaga diri dari perbuatan yang kurang bermanfaat, seperti jalan ke mall, atau nongkrong di cafe. Setelah saya memakai hijab, silaturahmi saya dengan teman juga tidak bermasalah, tetap akrab tanpa dibedakan dengan tetap menghormati saya yang sudah memakai hijab.

Seiring berjalanya waktu, saya mendapatkan cobaan untuk menguji kadar istiqomah saya memakai hijab. Setelah saya lulus kuliah, saya mulai melamar pekerjaan, dimana salah satu syarat mengajukan surat lamaran adalah dengan melampirkan foto diri. Foto yang saya lampirkan pada surat lamaran pekerjaan adalah foto saya yang berhijab, tetapi ada beberapa lamaran pada saat saya belum memiliki foto berhijab sehingga masih memakai foto biasa. Dengan IPK yang saya miliki, saya yakin akan mampu bersaing dengan pencari kerja yang lain. Beberapa perusahaan sudah memanggil saya untuk tes dan juga interview, dan banyak diantara tes tertulis yang saya jalani berhasil saya lewati.

Masalah muncul pada saat wawancara, dimana pada saat hari tersebut saya menjumpai banyak pelamar kerja yang memakai pakaian ketat dengan make up yang sangat mencolok. Pemandangan tersebut kontras dengan saya yang pada saat wawancara memakai pakaian tertutup dengan make up sederhana. Pada saat pewawancara mewawancarai pelamar lain memakan waktu lebih dari 15 menit, dan surprise..!! Beliau mewawancarai saya hanya kurang dari 10 menit.

Lama saya tunggu panggilan kerja, namun tak kunjung datang. Beberapa kali saya mengalami hal itu, gugur pada saat wawancara kerja. Sampai suatu ketika saya ketika saya dipanggil untuk interview, saya menanyakan “Maaf Bu, mungkin di surat lamaran saya masih belum memakai Hijab. Sekarang saya sudah memakai hijab. Apa Ibu tidak keberatan?” dan beliau menjawab “Maaf ya Mbak, mungkin tidak dulu. Pimpinan kami masih mencari yang tidak memakai hijab”.

Oke nggak masalah, memang belum rejeki saya. Tidak adil juga kalo saya bersuudzdzan dan menyalahkan kebijakan perusahaan tersebut atau menyamaratakan semua perusahaan tanpa instropeksi diri. Saya tetap ber’ikhtiar semampu saya dan meningkatkan kompetensi agar lebih menonjol daripada pencari kerja lain.

Kadang terbersit dalam pikiran saya, “Apakah timing saya kurang tepat saat memutuskan berhijab? Seharusnya keterima kerja dulu baru memakai hijab?” Tetapi saya buang pikiran tersebut dan tetap istiqomah untuk menutup aurat hanya untuk Allah.

Setelah menunggu selama hampir 1 tahun, saya mendapatkan panggilan tes dari salah satu Bank BUMN di Jakarta, untuk mengikuti tes sebagai clerk backoffice. Saya coba saja kesempatan ini dan datang dari kota kecil di Jawa Tengah menuju ibukota. Psikotes saya lalui dengan lancar, dan wawancara juga saya jalani tanpa beban (nothing to loose kalo orang bilang).

Yang membuat saya excited adalah, di tempat wawancara saya di lantai 11 gedung tersebut banyak saya jumpai pegawai yang berhijab dan santun. Sangat berbeda dengan suasana wawancara ketika saya berada di ibukota provinsi tempat saya berasal.

Tak beberapa lama kemudian, saya mendapat mendapat kabar bahwa saya diterima bekerja disana, dan Alhamdullilah walaupun masih berstatus pegawai kontrak, saya adalah pegawai kontrak yang dikelola oleh HCG (Human Capital Group) intern perusahaan langsung dan bukan dikelola oleh outsourching.

Setahun saya bekerja disana, muncul keinginan saya untuk meraih mimpi yang lebih besar. Saya sudah merasa enjoy dengan pekerjaan yang saya jalani, tetapi dengan status saya yang sebagai pegawai kontak, menjadikan saya masih belum berhenti untuk mencari pekerjaan yang lebih pasti, selain itu saya juga ingin melanjutkan sekolah.

Ketika mulai ada pembukaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil pada bulan Oktober, saya mencoba mendaftar ke salah satu Kementerian mengurusi bidang yang membuat saya tertarik yaitu ekspor import. Saya hanya mendaftar pada satu Kementerian yang beralamat di Gambir itu saja. Alhamdulilliah saya lolos seleksi administrasi dan mengikuti tes tertulis yang diadakan di Stadion Gelora Bung Karno.

Melihat begitu banyaknya peserta yang mengikuti seleksi CPNS hingga hampir memenuhi seluruh stadion, yang ada di fikiran saya adalah yang penting saya pernah punya pengalaman mengikuti tes menjadi pegawai negeri. Beberapa waktu kemudian saya kaget dengan adanya panggilan wawancara karena saya lolos seleksi tertulis pada seleksi CPNS.

Saya tidak percaya yang saya alami sekaligus bersyukur, dan saya menjalani tes wawancara dengan juga tanpa beban. Saya anggap ini saja sudah merupakan pengalaman yang berharga. Setelah menunggu dan rajin mengecek di website, Alhamdullilah nama saya tercamtum menjadi salah salah satu CPNS di Kementerian tersebut dengan tanpa mengeluarkan biaya apapun. Akhirnya saya resign dari perusahaan lama dan memilih untuk menjadi abdi negara.

Setahun saya menjadi CPNS dan setahun menjadi PNS, membuat saya sudah mempunyai hak untuk mendaftar pada beasiswa. Saya mencoba mendaftar beasiswa di Universitas Negeri di Bandung. Saya berhasil lolos seleksi administrasi dan dipanggil untuk tes selanjutnya dan wawancara. Setelah lebih dari sebulan saya menunggu, Alhamdullilah saya dikabari bahwa saya berkesempatan untuk melanjutkan kuliah dan dengan dibiayai oleh negara.

Sujud syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas hidayah dan karunianya sehingga saya bisa meraih apa yang saya cita-citakan. Keikhlasan, Istiqomah, Ikhtiar, dan doa saya dibayar lunas oleh Allah SWT. Apabila dahulu saya menuruti emosi untuk melepaskan hijab demi mendapatkan pekerjaan, saya tidak akan mendapatkan apa yang saya raih sekarang ini.

Allah lah paling Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah menjadikan segala sesuatu dengan tujuan dibaliknya, termasuk kejadian yang kita alami. Ikhtiar, doa, dan yang tak kalah penting restu orang tua  merupakan rumus jitu untuk mencapai kemenangan di dunia ini.

Terakhir saya sampaikan, tetaplah istiqomah pada pilihan apapun yang sudah kita buat.

Wallahualam Bish Showab…

written by: Frida Adyasari

2 thoughts on “Istiqomah Untuk Meraih Cita-Cita

  1. wanda mengatakan:

    alhamdulillah,, keep istiqamah

  2. Amanah mengatakan:

    Subhanallah yaa..
    Bisa istiqomah tidak melepas jilbab hanya untuk mendapatkan pekerjaan.
    Malah sekarang bisa bekerja sebagai abdi negara dan melanjutkan kuliah ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: