Saya Bisa Bertahan

Perkenalkan, nama saya Atifa Adlina. Biasa dipanggil Tifa.

Cerita hijabku?

Hmmm.. sebenarnya tidak ada yang terlalu spesial dari cerita saya, tapi boleh kan sekadar sharing?

Sejak umur 3 tahun, saya tinggal bersama nenek di Jakarta. Sedangkan orang tua dan adik saya di Medan. Berhubung nenek saya berasal dari keluarga yang cukup religious (mungkin karena orang aceh juga) jadi sejak kecil saya sudah diajarkan untuk berjilbab, dimulai sejak TK hingga sampai sekarang pun (20 tahun) Alhamdulillah saya masih berjilbab. Mungkin karena sudah terbiasa dari kecil diajarkan berjilbab, dan kebetulan sekolah di sekolah swasta islam, maka saya pun tidak heran dengan jilbab. Karena dari kecil, sudah diberi pemahaman bahwa perempuan muslim itu harus menutup aurat.

Terbiasa dari kecil, bukan berarti saya benar-benar menutup aurat dengan benar. Rentang waktu SD sampai SMA, ada kalanya saya tidak memakai jilbab. Bukan dalam artian pake lepas pake lepas loh hehe. Misalnya, waktu SMP saya diminta untuk menjadi penerima tamu di pernikahan tante. Yang seharusnya saya bisa memakai jilbab, tetapi saya tidak pakai karena alasan kepingin rambutnya di rias atau semacamnya. Begitu juga sewaktu SMA kelas 1, ada beberapa kali saya melepas jilbab karena alasan tertentu. Namun saya sangat bersyukur. Karena apa? Karena keinginan untuk melepas jilbab untuk esok hari dan seterusnya itu tidak ada. Jujur, ketika pada saat-saat saya tidak mengenakan jilbab, saya malah merasa risih.

Sampai sekarang, entah kenapa saya bersyukur telah diperkenalkan jilbab dan menutup aurat dari kecil. Apalagi, yang saya rasakan sekarang ini menjadi perempuan berjilbab tantangannya makin berat. Berat dalam artian bagaimana tetap istiqomah agar tidak terpengaruh dari hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan. Bisa dibilang, saya perempuan yang aktif dan ‘tidak bisa diam’. Apalagi saya kuliah di universitas negeri yang bisa dibilang harus hati-hati dalam bergaul.

Kuliah di universitas negeri bukan berarti perjalanan saya berorganisasi dan bersosialisasi mudah. Walaupun di zaman sekarang berjilbab bukan lagi hal tabu, tetapi pandangan miring atau meremehkan kadang masih terjadi. Secara tidak langsung, masih ada teman-teman di sekitar saya yang beranggapan bahwa : perempuan berjilbab tempatnya di masjid, tidak boleh bersosialisasi dengan yang bukan muhrim, dan tidak bisa leluasa untuk berorganisasi.

Sedih? Tidak! Kenapa? Saya ingin membuktikan bahwa perempuan berjilbab itu berkualitas. Jilbab bukan menjadi penghalang saya untuk bisa aktif sana-sini. Hingga pada akhirnya, saya dan tiga teman saya memutuskan untuk membuat produk blog hijab fashion (www.soul-of-mist.blogspot.com). Blog ini kami dedikasikan untuk para seluruh perempuan yang berjilbab maupun tidak berjilbab.

Kami ingin membuktikan bahwa perempuan yang memang sudah ada kodratnya untuk menutup aurat, tetapi bukan berarti perempuan tersebut kuno atau ketinggalan zaman. Dengan menutup aurat pun perempuan bisa tetap tampil menarik, aktif, dan berpengetahuan luas tanpa harus meninggalkan kewajiban. Ayo kawan, jilbab itu kewajiban, bukan untuk menjadi pilihan. Allah SWT selalu mempunyai rencana yang sangat indah untuk orang-orang yang berada di jalan-Nya.

written by: Atifa Adlina

Twitter: @adaadlina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: