Awal Cerita Aku Berhijab

Saya tumbuh besar di lingkungan yang bukan religius, tetapi sejak kecil yang mengasuh saya mengajari sholat dan mengaji Al-Qur’an hingga khatam.

Hingga kelulusan SMP saya tidak banyak mendapat ilmu agama apalagi disuruh berjilbab, sama sekali tidak ada dalam pikiran saya. Setelah duduk di SMA saya baru mulai memikirkan untuk berjilbab, karena sekolah saya pada saat itu mulai mengenakan rok panjang dan setiap jum’atnya yang perempuan harus mengikuti kisi (semacam tausiyah sesama perempuan, bahkan pengajarnya juga perempuan). Dari situ dijelaskan bahwa perempuan wajib memakai jilbab, dijelaskan pada beberapa ayat bahwa haram hukumnya memperlihatkan aurat dengan yang bukan mahramnya.

Astagfirullah! Saat itu saja saya sudah berdosa belum lagi ditambah dengan dosa-dosa lainnya. Tapi, karena saya belum mendapat bimbingan lebih dari rumah sehingga hal tersebut lambat laun terlupakan.

Lulus SMA, saya tidak langsung melanjutkan kuliah dan bekerja di bandara Sepinggan, Balikpapan. Sebagai staff check-in counter saya harus berpenampilan menarik dan kebetulan seragamnya mengenakan rok selutut. Entah kenapa mungkin dari penampilan yang menarik itu membuat salah satu penumpang menjadi tertarik kepada saya, awalnya saya tidak mengetahui bahwa dia sudah memiliki istri. Disini saya merasa bodoh, hina, dan jahat. Kenapa saya harus menyakiti satu anak dan perempuan yang tidak memiliki salah dengan saya? Pelan-pelan saya menjauhinya, dengan berbagai alasan saya menghindari berkomunikasi dengannya.

Setelah itu saya merasa diberi teguran, dalam seminggu diberi mimpi aneh, seperti disiksa di suatu tempat. Ketakutan mulai menyelimuti, hingga saya kembali teringat kata-kata ini…

“Wahai saudari muslimah siapakah yang menyuruhmu berjilbab? Untukmu ukhti muslimah, kemana akan kau bawa dirimu kepada gemerlapnya dunia, kemilaunya harta atau kepada ketampanan seorang pria walaupun kau harus membuka hijabmu untuk mendapatkan semua yang kau inginkan maka kehinaan yang akan kau dapatkan. Wahai saudari muslimah, siapakah yang menyuruhmu untuk berhijab? Untukmu ukhti muslimah, kemana akan kau bawa dirimu? Kepada kemuliaan jiwa, kepada keridhoan sang Pencipta atau mulianya menjadi bidadari surga walaupun hinaan dan cacian yang harus kau terima demi untuk menjaga hijab yang telah disyariatkan agama, maka kebahagiaan yang akan kau dapatkan. Katakan tidak kepada gemerlapnya dunia jika hijabmu hatus terlepas karenanya, katakan tidak pada kemilauan harta jika hijabmu harus menjadi tebusannya, karena hijabmu adalah benteng kemuliaan dirimu. Bahwasanya yang menyuruh untuk berjilbab, yang menyuruh berbusana muslimah, yang menyuruh adalah Allah SWT dan rasul-Nya dn konsekuensi kita sebagai seorang muslim atau muslimah wajib taat kepada Allah ta’ala, karena Allah yang menciptakan kita, memberi rezeki kepada kita, Menyuruh kita untuk berjilbab.”

Kata-kata tersebut akhirnya membuat saya untuk memantapkan niat berhijab, Alhamdulillah pada bulan Maret tahun 2008 saya memakainya.

Hubungan saya dengannya pun sudah tidak ada sama sekali karena alasan terakhir saya, saya sudah mengenakan hijab jadi saya malu untuk mengganggu suami orang. Tetapi ternyata tidak sampai disitu saja, bau bangkai lama-lama tercium juga, istrinya pun meneror saya pada saat itu saya sudah menjelaskan saya tidak mengetahui bahwa dia beristri dan berbagai perkataan kotor pun dilontarkan kepada saya. Masya Allah, saya merasa sangat sedih dan hina saat sang istri mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Demi Allah saya tidak pernah berbuat sesuatu dengan suaminya, beribu kali maaf saya ucapkan kepada istrinya. Tetapi saya anggap itu memang ujian saya diawal berhijab, kalau bukan karena mereka mungkin saya tidak mengenakan hijab pada saat itu.

Awal berhijab memang berat tetapi ada juga bagian yang paling lucu, yaitu ketika mengendarai motor saya lupa memakai helm, saya merasa kepala saya sudah ada ‘sesuatu’ sehingga saya benar-benar tidak mengingat helm. Berkali-kali sering terjadi tetapi lama kelamaan terbiasa juga. Ditahun pertama pergi ke warung masih tidak memakai hijab dan alhamdulillah ditahun kedua saya mulai merasa malu keluar rumah atau menerima tamu jika tidak mengenakan hijab. Hingga sekarang pun inshallah istiqomah selalu memakai hijab, walaupun terkadang masih kurang mengenakannya hingga menutupi dada, saya memang harus banyak belajar lagi.

Pernah suatu hari orang yang saya follow di Twitter menulis di timeline yang menggambarkan betapa dia mengagumi perempuan berjilbab.

@zarryhendrik:

“dari sekian banyak macam perempuan, ditatap perempuan berjilbab adalah salah satu terkuat yang bikin salting”

“yang gue tangkep disini, menutup aurat itu menarik perhatian Tuhan, sedang memperlihatkan aurat itu menarik perhatian laki-laki. Bener?”

“biar bagaimana, cowok tetep cowok, kita tertarik dengan fisik perempuan. Anehnya, jilbab tidak menutup kecantikan, melainkan melindunginya.”

“yang gak pake jilbab juga baik kok, bedanya cuma sedikit lebih menggoda, lebih mudah ditelanjangi di dalam pikiran laki-laki.”

“biasanya gue ngeliat cewek dari caranya merawat dan menata rambut. Tapi kalo cewek berjilbab, mereka merawat dan menata pikiran gue”

“gue suka aneh kalo ada yang ngomong.. ‘ih, masak cewek berjilbab kelakuannya gitu..’ ya ampun, cewek berjilbab kan bukan malaikat juga.”

“ada yang bilang jilbab hati dulu baru jilbab kepala. Kan jilbab itu menutup aurat, bukan menutup hati. Hati kan nggak keliatan.”

“jilbab itu salah satu yang menginspirasi gue membuat suatu kalimat yang mungkin udah pada tau, yaitu.. ‘Cintai Tuhanku dulu, baru aku’ “

Kata-kata dia yang seorang non-muslim itu membuat saya semakin bangga berjilbab, bahwasanya saya menjaga kesucian saya, melindungi setiap jengkal diri saya. Subhanallah, betapa Allah menyayangi kaum hawa. Saya sangat sadar sekali, bahwa diri saya pun masih banyak kekurangan, yang mana setiap harinya mengharuskan saya menambah ilmu agar dapat menjadi muslimah yang kaffah, menjadi istri sholehah dan perempuan bagi dunia dan akhirat.

Amin ya Rabb..

written by: Bella Octavia

3 thoughts on “Awal Cerita Aku Berhijab

  1. Dwi mengatakan:

    Aku sedang berusaha lebih lagi dan segera kembali mengenakan JIlbab.

  2. rizqi puspita mengatakan:

    semoga saya sesegera mungkin mengenakan hijab yang sempurna..🙂

  3. Jilbab Modern mengatakan:

    yang dah berjilbab alhamdulillah… yg belum usaha dong supaya bisa menutup aurot itu kan syariat islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: