11 Years With You

Tanggal 9 September 2011 kemarin, tepat sudah 11 tahun ku bersamamu. Berbagi suka dan duka. Melewati segala tangis dan bahagia. Banyak tempat telah kita kunjungi, juga banyak kejadian telah kita lewati. Terkadang aku merasa asing dan sendiri tetapi kau selalu melindungi dan menguatkan. Terlalu berat bila ku jauh darimu. Terlalu sulit melakukan banyak hal tanpamu.

Pernah ada yang bertanya, berapa lama aku bersamamu dan mereka terkejut dengan jawabanku. “Selama itu, tidak bosan? tidak ada masalah?“ tanya mereka. Lalu ku ceritakan kisah kita ketika aku masih sekolah menengah.

Aku suka sebal dengan kehadiranmu. Dengan adanya kamu, aku tidak bisa bebas berekspresi. Gaya ku terasa dibatasi. Semua serba ribet dan memusingkan. Aku merasa menjadi orang dengan gaya paling buruk, tidak gaul dan super kuper.

Ah, maafkan aku. Apa daya, itulah pikiranku dulu. Saat itu ingin rasanya aku meninggalkanmu. Untungnya aku berada dalam lingkungan yang mendukungku untuk selalu bersamamu. Hingga pada akhirnya aku dapat bertahan.

Begitu aku kuliah, lingkunganku langsung berubah. Semua benar-benar berbeda dengan sekolah menengah. Aku merasa kuat, “Inilah dunia! Banyak orang dengan latar belakang dan tampilan berbeda-beda..“ pikirku.

Ternyata, jujur aku mengalami kesulitan. Tatapan beberapa atau bahkan banyak dari mereka begitu melecehkan dan merendahkan setiap melihatku bersamamu. Seakan-akan merekalah yang terhebat di dunia ini. Kamu hanyalah sampah kotor dalam dunia hebat mereka.

Saat aku mengobrol pun, mereka suka mengacuhkan dan menganggapku tak ada. Hanya karena aku bersamamu. Aku sedih. Apa yang salah denganmu, mereka tidak tahu kehebatanmu. Mereka tidak tahu bahwa kamu dapat merubah dunia.

Menurutku, kalau rasis itu biasanya untuk warna kulit dan ras, seharusnya ada tipe rasis baru yaitu rasis tentang dirimu. Terlalu berlebihan reaksi yang mereka berikan. Meskipun ini negara besar, beragama dan beradab, perlakuan mereka tetap tidak dapat dimaafkan.

Aku pasrah. Ku lewati hari-hari dengan tatapan dan cibiran mereka saat melihatku bersamamu. Terlalu sulit untuk melawan, aku tidak ingin membuang waktu. Biarlah waktu yang membuktikan.

Aku berusaha untuk menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku mencoba menjadi lebih baik. Menghargai pendapat, menghormati orang lain, memahami perasaan, menyayangi dan berbagi. Hanya itu yang bisa ku lakukan, bersamamu dan untukmu.

Pada akhirnya, aku, bersamamu, kita berhasil mengalahkan mereka. Tidak ada lagi pandangan dan cibiran menyebalkan. Entah mengapa juga, aku dan dirimu, kita dianggap lebih dewasa dibandingkan yang lainnya.

Kemudian, saat aku harus magang ke Jerman, dengan setia dirimu menemani. Kau tahu segala kegelisahan dan keresahanku. Banyak yang kemudian meninggalkanmu, tetapi tidak denganku. Aku tahu kamu akan selalu menemani dan membantuku.

Ternyata semua benar adanya. Saat yang lain sibuk dengan urusan duniawi yang tidak bisa didapatkan di Indonesia, dengan ‘lugu’nya aku ribet ingin Shalat. Bersamamu aku merasa stress karena belum Shalat dan sulit untuk mencari tempat. Di lain waktu, kamu menjagaku dari godaan yang terlalu hebat. Jika tidak karenamu, mungkin aku bukanlah diriku yang sangat menjaga.

Bersamamu aku telah mengarungi segala kesedihan dan menggapai semua kebahagiaan. Terima kasih, Hijabku. Terima kasih telah melindungiku, menjagaku, menuntunku dan menemaniku.

You are my best friend. My soulmate. 11 years with you is not enough, definitely. I can’t wait to spend many years ahead with you. Insya Allah..

written by: Talita Zahrah Fauziyyah

Twitter: @talitazahrah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: