Perubahan

Nadya SaraswatiLahir dan besar sebagai seorang muslim merupakan karunia yang luar biasa dan tidak bisa diukur dengan apapun. Lebih bahagia lagi, saya sudah berpikir untuk menutup aurat pada usia 18 tahun dan 2 tahun yang lalu saya resmi berjilbab.

Saya tidak besar di lingkungan islami, di usia 4 tahun saya memiliki teman akrab seorang nasrani. Mama tidak pernah memasukan saya ke TPA atau pengajian. Mama mengenalkan islam kepada saya, mama mengajari membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, mengajari sholat 5 waktu, juga mengajarkan berpuasa tapi melarang saya berpuasa saat umur 5 tahun. Padahal teman-teman banyak yang menjalankan salah satu rukun islam itu.

Saya tumbuh besar menjadi gadis yang ‘angot-angotan‘ dalam beribadah. Kadang bisa sehari penuh lima waktu, kadang hanya maghrib saja, kadang hanya subuh saja, atau tidak sama sekali. Mama memang cukup ketat dan galak untuk urusan ibadah, tapi saat saya tidak dirumah dan mama tidak melihat, ibadah pun saya lalaikan. Takut kepada Allah menjadi nomor sekian. Seolah-olah ibadah hanya karena mama, bukan karena Allah. Dengan perilaku saya yang jauh dari baik itu, tidak pernah sekalipun saya berniat menggunakan jilbab, karena saat saya memakai pakaian yang tertutup, badan saya menolak. Hal Ini berlangsung hingga SMA.

Sampai kemudian terbesit pikiran untuk menggunakan jilbab yang datang dari teman dekat saya yang meminta saya untuk menyegerakan berjilbab. Sekali, duakali, tigakali, sampai berkali-kali ia terus mengingatkan saya tentang pentingnya menutup aurat. Lama-lama hati saya terketuk juga. Hampir setiap hari saya memikirkan tentang keinginan ingin berjilbab. Seperti hati ini mengiyakan tapi tidak dengan otak saya yang memikirkan banyak hal. Bagaimana pandangan orang, bagaimana nanti dalam pergaulan, bagaimana jika perilaku saya tidak sesuai dengan pakaian yang saya kenakan dan sebagainya. Semakin sering juga saya bertemu dengan orang-orang yang berjilbab dan mendengar ceramah tentang jilbab itu sendiri secara tidak sengaja. Entahlah. Seperti kebetulan yang sudah direncanakan Allah.

Awal perkuliahan, saya mulai memantapkan hati. Saya mulai memakai pakaian yang lebih tertutup, mulai menyempurnakan ibadah saya, mulai mempelajari agama lebih dalam lagi, biar bagaimanapun saya tidak ingin tergesa-gesa karena saya sama sekali tidak ada dorongan dari siapapun untuk berjilbab selain dari teman dekat saya itu. Pada saat saya mengutarakan keinginan untuk berjilbab pun, orangtua sempat meragukan dan saya dilarang melepas jilbab jika sudah memiliki keinginan untuk memakainya.

Akhirnya hari itu datang juga. Ditahun kedua saya kuliah, saya sudah mulai mengenakan jilbab. Ada perasaan damai dan terlindungi setelahnya. Saya jadi merasa lebih dihargai sebagai seorang perempuan karena laki-laki lebih sungkan jika ingin mendekati saya. Dilingkungan kampus pun, hanya segelintir orang yang berjilbab dan mayoritas nasrani. Banyak yang tidak percaya saya akhirnya berjilbab dilingkungan yang jauh dari nuansa islami. Tapi saya sudah yakin dengan keputusan saya. Saya ingin selalu dekat dengan Allah, mematuhi semua perintah-Nya dan berusaha untuk terus mengenal agama saya sendiri lebih jauh dan juga memperbaiki diri saya yang masih jauh dari sempurna.

Jika kembali ke masa-masa itu, saya hanya bisa tersenyum pahit dan bersyukur. Kasih sayang Allah untuk umat-Nya tidak akan pernah habis. Biarpun kita tidak mengingat-Nya, tapi Dia selalu mengingat kita dan memberikan yang terbaik. Alhamdulillah. Dan saya yakin benar semua ini tidak datang tiba-tiba. Allah yang sudah merencanakan hal ini terjadi dengan cantik dan indah, perubahan yang tepat pada waktunya.

Saya terus berdoa untuk semua muslimah agar disegerakan menutup aurat. Menutup, bukan membungkus. InshaAllah, Allah maha membolak balikan hati manusia.

written by: Nadya Saraswati

7 thoughts on “Perubahan

  1. Okky Setiana mengatakan:

    saya dulu risih ukti ketika menggunakan hijab, tapi ketika pakai hijab dari PRODUSEN MUKENA KATUN JEPANG saya malah lebih suka karena mukenanya nyaman, lembut dan adem. coba klik aja di http://www.mukenadistro.com

  2. amalia mengatakan:

    assallamualaikum Nama saya amalia umur 18thun bru kmrn saya d beri sran oleh ibu saya utk berhijab . krna kaka dan ibu saya sudh berhijab . ketika ibu saya berkata “mel lebih baik kmu skrng berhijab, mamah sma ayang fira kan sudh kamu kpan??” saya pun mnjawb hijab itu gg semudah dengan ucpn saja mah , hati pun juga hrus mantap . lalu kka perempuan saya menjwab “stidk.a kita mengurangi 1 dosa , seiring dgn berjln.a wktu psti kmu akan mengerti arti dr sebuah hijab .
    maka dr itu pun semenjak kmrn , hati ini mulai terketuk mulai berpkir keras . apa yg hrus sya perbuat , saya takut jika sya berhijab tetapi perlakuan saya tdk sesuai dgn hijab saya . akan tetapi hati ini sprti ada yg berbicara , jd apa yg hrus sya lakukan ??😦

  3. novi mengatakan:

    Assalamualaikum… nama sy novi,sy sudah lama ingin berhijab, dan perasaan ingin berhijab itu lbh sering dtg saat2 ini,perasaan ingin berhijab itu slalu dtg menghantui pikiran… ingin ingin dan ingin…tapi ibu sy seperti kurang setuju * karna sering lihat orang berhijab berahlak kurang baik. dan satu lg kebingungan sy adalah karena pacar sy org katolik, tapi anehnya pacar sy malah lebih mendukung sy utk berhijab! Finally sampai saat ini sy msh di ambang kebingungan😦

  4. Dita Khaerani mengatakan:

    Assalamualaikum wr wb,

    Mohon maaf sebelumnya, bukan ingin melangkahi balasan komentar mbak nadya, tapi saya hanya ingin berbagi tentang perjalanan saya menuju berhijab.

    Mbak Annisa, Nia, & Sinta, perkenalkan nama saya dita. saya baru berhijab selama 5 hari yang sudah pasti pengetahuan saya masih sedikit. tapi 1 yang saya yakini, saya berhijab karena Allah swt. jika berbicara tentang lingkungan sekitar, ibu sayapun tidak berhijab. dan kegiatan sholat di keluarga saya jarang sekali dijalankan. tapi alhamdulillah, saya terus mendapatkan petunjuk dari Allah swt, sehingga saya mampu menjalankan sholat 5 waktu walaupun sendirian, hingga saya mendapatkan perasaan cemas jika meninggalkan sholat.

    Dan saat ini, saya berhijab karena keputusan saya sendiri. tidak ada dorongan atau paksaan dari pihak manapun karena pada ahirnya saya sadar bahwa menutup aurat adalah suatu kewajiban untuk seorang wanita, bagaimanapun ahlaknya. banyak orang berkomentar “pake jilbab kok begitu / begini, lepas aja lah jilbabnya” atau berpendapat “ah mau jilbabin hati dulu aja supaya nanti berhijabnya lebih mantap”, itu 100% salah.

    Intinya, jika seseorang wanita berhijab tapi sikap dan tutur katanya tidak baik / tidak sopan, maka salahkan ahlaknya, jangan salahkan hijabnya, apalagi menyalahkan agamanya. jadim jangan ragu untuk berhijab ya ukhti – ukhti cantik🙂 sebenarnya kewajiban berhijab harus segera dilakukan begitu seorang wanita akil baligh. tapi tidak ada kata terlambat untuk bertaubat & berubah lebih baik demi mendapatkan ridha Allah swt. 1 pesan teman dekat saya, “jangan takut untuk berpenampilan lebih baik, karena apa yang kita lakukan dan kita ucapkan otomatis akan mengikuti apa yang kita kenakan.”

    Sebagai tambahan, silahkan dibaca: http://kisahislami.com/tak-mau-berhijab-berikut-alasan-dan-jawaban/

    Semoga membantu🙂 wassalamualaikum, wr wb.

  5. Annisa mengatakan:

    saya ingin sekali berhijab tapi ynk nama nya sh0lat kadang” ada kdnk” tidak,,:(

  6. nia mengatakan:

    nadya
    saya ingin sekali brhijab,.
    tpy saya tidak ingin di bilang orang,. klo kelakuan sya tdk sesuai dgn hijab sya,.
    mnurut nadya gmna,?

  7. Sinta Diah mengatakan:

    Dear Nadya,
    Saya Sinta…. sejak awal bulan Mei 2013 saya disarankan menggunakan jilbab. Hati saya senang dengan saran itu,..lalu saya mencari artikel tentang berhijab yang “disarankan”,.. awalnya saya anggap itu hanya anjuran dan bukan kewajiban.

    Setelah saya mempelajari lagi beberapa artikel menyebutkan ayat Al-Qur’an yang mendasari saran berjilbab itu. Alhamdulillah,…pertengahan bulan Juni 2013 saya yakin untuk berjilbab. Saya coba sharing dengan Ibu saya, beliau bilang “beberapa wanita berjilbab sekarang seperti salah kaprah…masih berbalut busana ketat meskipun sudah menutup rambutnya — nanti sajalah kalau kamu sudah menikah”.

    Nadya,
    Saya ingin sekali mengenakan jilbab secepatnya. Segera…selain u/ menjalankan perintah agama dan lebih dekat lagi dengan Sang Maha Pemilik. Yang saya pikirkan sekarang bagaimana saya memulainya?

    orang rumah kurang mendukung n yang mendukung justru teman saya..

    Menurut Nadya bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: